Selasa, 20 November 2012

Bait 12-13-14. Pembagian Kalimah Huruf dan Kalimah Fi’il serta ciri-cirinya.

سِوَاهُمَا الْحَرْفُ كَهَلْ وَفِي وَلَمْ ¤ فِعْـــلٌ مُـضَــارِعٌ يَلِي لَمْ كَـيَشمْ

Selain keduanya (ciri Isim dan Fi’il) dinamaan Kalimah Huruf, seperti lafadz Hal, Fi, dan Lam. Ciri Fi’il Mudhori’ adalah dapat mengiringi Lam, seperti lafadz Lam Yasyam.
وَمَاضِيَ الأَفْعَالِ بِالتَّا مِزْ وَسِمْ ¤ بِالنُّـــوْنِ فِعْلَ الأَمْرِ إِنْ أَمْرٌ فُهِمْ

Dan untuk ciri Fi’il Madhi, bedakanlah olehmu! dengan tanda Ta’. Dan namakanlah Fi’il Amar! dengan tanda Nun Taukid (sebagi cirinya) apabila Kalimah itu menunjukkan kata perintah.
وَالأَمْرُ إِنْ لَمْ يَكُ لِلنّوْنِ مَحَلْ ¤ فِيْهِ هُوَ اسْمٌ نَحْوُ صَهْ وَحَيَّهَلْ

Kata perintah jika tidak dapat menerima tempat untuk Nun Taukid, maka kata perintah tersebut dikategorikan Isim, seperti Shah! dan Hayyahal!

Pembagian Kalimah Huruf dan Ciri-Cirinya

Kalimah Huruf dapat dibedakan dengan Kalimah-Kalimah yang lain, yaitu Kalimat selain yang dapat menerima tanda Kalimah Isim dan tanda Kalimat Fi’il, atau Kalimat yang tidak bisa menerima tanda-tanda Kalimat Isim dan Fi’il. Kemudian dicontohkannya dengan Lafad هل, في, dan لم , ketiga contoh Kalimat Huruf tsb menunjukkan penjelasan bahwa Kalimat Huruf terbagi menjadi dua:

Alfiyah Bait 12-13-14

Kalimah Huruf Ghair Mukhtash (Tidak Khusus), bisa masuk pada Kalimat Isim, juga bisa masuk pada Kalimat Fi’il. Contoh هل :

هَلْ زَيْدٌ قَائِمٌ وَهَلْ قَامَ زَيْدٌ

Apakah Zaid orang yg berdiri? Dan apakah Zaid telah berdiri?

Lafadz “HAL” yang pertama masuk pada Kalimat Isim dan “HAL” yang kedua masuk pada Kalimat Fi’il.

Kalimat Huruf Mukhtash (Khusus), khusus masuk pada Kalimat Isim contoh في, dan khusus masuk pada Kalimat Fiil contoh لم :

لَمْ يَقُمْ زَيْدٌ فِي الدَّارِ

Zaid tidak berdiri di dalam Rumah.

Pembagian Kalimah Fi’il dan Ciri-Cirinya

Bait diatas juga menenerangkan bahwa Kalimah Fi’il terbagi menjai Fi’il Madhi, Fi’il Mudhari’ dan Fi’il Amar berikut ciri masing-masing.

Dikatakan Fi’il Mudhori apabila pantas dimasuki لم contoh:

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan

Dikatakan Fi’il Madhi apabila pantas dimasuki Ta’ Fa’il dan Ta’ Ta’nits Sakinah contoh:

قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي

Balqis berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku”

Dikatakan Fi’il Amar apabila bentuknya menunjukkan perintah dan pantas menerima Nun Taukid contoh:

أَكْرِمَنَّ الْمِسْكِين

Sungguh hormatilah oranga miskin !

Apabila ada kalimah yang menunjukkan kata perintah tapi tidak pantas menerima Nun Taukid, maka kalimah tersebut digolongkan “Isim Fi’il” seperti lafadz حيهل menyuruh terima dan lafadz صه menyuruh diam, Contoh:
صَهْ إذَا تَكَلَّمَ غَيْرُكَ

Diamlah ! jika orang lain berbicara

صه dan حيهل keduanya disebut kalimat Isim sekalipun menunjukkan tanda perintah, perbedaannya adalah dalam hal tidak bisanya menerima Nun Taukid. Oleh karena itu tidak bisa dilafadzkan صهن atau

Pengertian Istighol » Alfiyah Bait 255

–••Ο••–

إِنْ مُضْمَرُ اسْمٍ سَابِقٍ فِعْلاً شَغَلْ ¤ عَنْهُ بِنَصْبِ لَفْظِهِ أَوِ الْمحَلّ

Jika DHAMIR dari ISIM SABIQ (Isim yg mendahului dalam penyebutannya) merepotkan terhadap Fi’ilnya, tentang hal yang menashabkan lafazh Isim Sabik ataupun mahalnya.
فَالسَّابِقَ انْصِبْهُ بِفعْلٍ أُضْمِرَا ¤ حَتْماً مُوَافِقٍ لِمَا قَدْ أُظْهِرَا

Maka: nashabkanlah ISIM SABIK tersebut oleh FI’IL yang wajib disimpan dengan mencocoki terhadap FI’IL yang dizhahirkan.

–••Ο••–

Definisi ISTIGHOL menurut bahasa adalah: kesibukan.
Definisi ISYTIGHOL menurut istilah nahwu adalah: Mengedepankan Isim (Isim Sabiq) dan mengakhirkan Amilnya (Fi’il atau yg serupa pengamalannya) disibukkan tentang nashabnya Isim Sabiq, sebab Amil tsb sudah beramal pada dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq atau pada Sababnya (lafazh mudhaf pada dhamir Isim Sabiq).

Contoh Isytighal Fi’il/Amil beramal pada Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:
زيدا ضربته

ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya*
زيدا مررت به

ZAIDAN MARORTU BIHII =Zaid, aku berpapasan dengannya*

* Seandainya Dhamir pada contoh-contoh diatas ditiadakan, niscaya Amil/Fi’il tsb beramal pada Isim Sabik sebagai Maf’ulnya yg dikedepankan, atau Mu’allaqnya yg dikedepankan.

Contoh Istighal Fi’il/Amil beramal pada Sabab Dhamir yg merujuk pada Isim Sabiq:
زيدا ضربت ابنه

ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.


Tulisan tangan Bahauddin Ibnu 'Aqil (694-769 H). Syarah Ibnu 'Aqil 'ala Alfiyah. Sumber: www.mahaja.com



Rukun-rukun dalam susunan kalimat ISYTIGHAL ada 3:

1. Masyghuulun ‘Anhu (lafazh yg dikedepankan/isim sabik)
2. Masyghuulun (Amil yg diakhirkan, Fi’il atau serupa Fi’il)
3. Masyghuulun Bihi (Dhamir/Sabab Dhamir yg merujuk pd Isim Saabiq)

Apabila terdapat kalimat dengan bentuk susunan rukun-rukun diatas, maka asalnya lafazh yg dikedepankan/isim sabiq tersebut boleh dibaca dua jalan:
1. Rofa’ sebagai Mubtada dan jumlah sesudahnya sebagai Khobarnya. Demikian yg ROJIH karena bebas dari masalah kira-kira/taqdir.
2. Nashob sebagai Maf’ul Bih bagi ‘Amil/Fi’il yg lafazhnya wajib dibuang ditafsiri dari ‘Amil/Fi’il yg lafaznya disebutkan. Demikian yg MARJUH karena butuh terhadap kira-kira/taqdir (disinilah pembahasan ISYTIGHOL).
Fi’il yg terbuang harus ditafsiri dari Fi’il yg tersebut, baik dalam penafsiarannya mencocoki lafaz dan makna, atau mencocoki makna saja, ataupun tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup Fi’il yg tersebut. Contoh:

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki lafaz dan makna:
زيدا ضربته

ZAIDAN DHOROBTU HU = Zaid, aku memukulnya

Taqdirannya adalah:
ضربت زيدا ضربته

DHOROBTU ZAIDAN DHOROBTU HU = aku memukul Zaid yakni aku memukulnya

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri mencocoki makna saja:
زيدا مررت به

ZAIDAN MARORTU BI HII = Zaid, aku berpapasan dengannya

Taqdirannya adalah:
جاوزت زيدا مررت به

JAAWAZTU ZAIDAN MARORTU BI HII = aku lewat bertemu Zaid yakni aku berpapasan dengannya.

Contoh Fi’il yg dibuang ditakdiri tidak mencocoki lafaz dan makna tapi mencakup:
زيدا ضربت ابنه

ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = Zaid, aku memukul anaknya.

Taqdirannya adalah:
أهنت زيدا ضربت ابنه

AHANTU ZAIDAN DHOROBTU IBNA HU = aku menghinakan Zaid yakni aku memukul anaknya*

* maka dengan demikian jumlah fi’liyah yang ada setelah Isim Sabiq tersebut disebut jumlah tafsiriyah la mahalla lahaa minal I’roob (tidak punya I’rob).

Dijelaskan perihal ISIM SABIQ yaitu: ada yg wajib nashab, rojih nashob, wajib rofa’, rojih rofa, ataupun yg tidak nashob dan rofa’ InsyaAllah akan dijelaskan pada Bait-bait selanjutnya.

Pengertian Istitsna’ Mustatsna » Alfiyah Bait 316-317

–·•Ο•·–

الاستثناء

AL-ISTITSNA’
مَا اسْتَثْنَتِ الاَّ مَعْ تَمَامٍ يَنْتَصِبْ ¤ وَبَعْدَ نَفْيٍ أَوْ كَنَفْيٍ انْتُخِبْ

lafazh Mustatsna oleh illa pada kalam tam hukumnya NASHOB. (Selain) jatuh sesudah Nafi atau Syibhu Nafi, dipilihlah hukum …
إتْبَاعُ مَا اتَّصَلَ وَانْصِبْ مَا انْقَطَعْ ¤ وَعَنْ تَمِيمٍ فِيهِ إِبْدَالٌ وَقَعْ

TABI’ (jadi badal) bagi yg mustatsna muttashil dan harus NASHOB! bagi yang mustasna munqothi’. Menurut logat Bani Tamim, TABI’ BADAL juga berlaku pada yg mustatsna munqothi’.

–·•Ο•·–

PENGERTIAN ISTITSNA‘ adalah : Mengecualikan dengan adat ILLA atau satu dari saudara ILLA terhadap lafaz yang masuk dalam hukum lafazh sebelum ILLA baik pemasukan hukum tsb kategori hakiki atau taqdiri.
Contoh:
قرأت الكتاب إلا صفحةً

QORO’TU AL-KITAABA ILLA SHOFHATAN* = aku telah membaca kitab itu kecuali satu halaman.

*Lafazh “SHOFHATAN” dikeluarkan/dikecualikan dari hukum lafazh sebelum adat ILLA, yaitu hukum MEMBACA (lafazh QORO’TU), karena ia termasuk dalam hukum tersebut, pemasukan seperti ini disebut hakiki, karena SHOFHATAN bagian dari AL-KITAB. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUTTASHIL.
Contoh:
جاء القوم إلا سيارةً

JAA’A AL-QOUMU ILLA SAYYAAROTAN* = Kaum itu telah datang kecuali mobil.

*lafazh “SAYYAAROTAN” jatuh sesudah adat ILLA, ia dikecualikan dari hukum lafazh yg ada sebelum ILLA, yaitu hukum datang (lafaz JAA’A). Andaikan tidak ada ILLA ia termasuk pada hukum datangnya Kaum, pemasukan seperti ini disebut Taqdiri, karena ” SAYYAAROTAN” bukanlah jenis dari Kaum. maka pengecualian seperti ini dinamakan MUSTATSNA MUNQOTHI’

ADAWAT ISTISNA semuanya ada delapan dibagi menjadi empat bagian:

1. Kalimah huruf > ILLA
2. Kalimah Isim > GHOIRU dan SIWAA
3. Kalimah Fi’il > LAISA dan LAA YAKUUNU
4. Taroddud antara Fi’il dan Huruf > KHOLAA, ‘ADAA, HASYAA (untuk HASYAA seringnya disebut kalimah Huruf)

USLUB ISTITSNAA‘ tersusun dari tiga bagian:

1. Al-Mustatsnaa (isim yg jatuh sesudah adat istitsna’)
2. Al-Mustatsna minhu (isim yang ada sebelum adat istitsnaa’)
3. Adatul-Istitsna’ (perangkat istitsna).

I’ROB MUSTATSNA pada umumnya adalah wajib Nashob ‘ala Istitsnaiyah, dengan syarat:

1. Berupa Kalam Tamm yaitu: kalam Istitsnaa dengan menyebut Mustatsna Minhu.
2. Berupa Kalam Mujab (kalimat positif) yaitu: tanpa Nafi atau Syibhu Nafi (Nahi, Istifham bimakna Nafi).

Dalam hal ini Mustatsna wajib Nashob tidak ada perbedaan antara yang Mustatsna Muttashil dan Munqathi’ sebagimana dua contoh diatas. Contoh Firman Allah:
فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِنْهُمْ

FA SYAARIBUU MINHU ILLA QOLIILAN MINHUM = Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka (QS. Al-Baqoroh : 249)

Juga tidak ada perbedaan antara penyebutan mustasna diakhirkan atau dikedepankan dari Mustatsna Minhu-nya, contoh:
حضر إلا علياً الأصدقاءُ

HADHORO ILLA ‘ALIYYAN AL-ASHDIQOO’U = teman-teman telah hadir kecuali Ali

((Apabila Kalam Ghoiru Tamm, yakni tanpa menyebut Mustasna Minhu, maka hukumnya akan diterangkan pada bait selanjutnya))

Apabila Kalam Tam tersebut Ghoiru Mujab atau Manfi (kalimat negatif) yakni memakai Nafi atau Syibhu Nafi, maka dalam hal ini terbagi dua:

1. Jika berupa MUSTASNA MUTTASHIL, maka boleh dibaca dua jalan: Nashob sebab Istitsnaa’ atau Tabi’ mengikuti I’rob al-Mustatsna Minhu. Contoh:
لا تعجبني الكتُب إلا النافع

LAA TU’JIBUNII AL-KUTUBU ILLAA ANNAAFI’U/ANNAAFI’A* = Kitab-kitab itu tidak membuatku kagum kecuali kemanfa’atannya.

*lafzh ANNAAFI’U/ANNAAFI’A manshub sebab Istisna, atau marfu’ sebab Tabi’ menjadi Badal dari Al-Mustatsna Minhu (AL-KUTUBU). Contoh Firman Allah:
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ أَزْوَاجَهُمْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُمْ شُهَدَاءُ إِلَّا انفســهم

WAL-LADZIINA YARMUUNA AZWAAJAHUM WA LAM YAKUN LAHUM SYUHADAA’U ILLAA ANFUSU HUM* = Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri (QS. Annur :6)

*Qiro’ah Sab’ah membaca lafazh ANFUSU dengan Rofa’, selain pada Al-Qur’an ia boleh dibaca Nashob. Namun bacaan al-Qur’an sunnah mengikuti bacaan Mereka. Dan contoh Firmannya:
وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِنْ دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِنْهُمْ

WA LAU ANNAA KATABNAA ‘ALAIHIM AN-IQTULUU ANFUSAKUM AW-IKHRUJUU MIN DIYAARIKUM MAA FA’ALUUHU ILLAA QOLIILUN MINHUM*
Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka (QS. Annisaa’ : 66)

*Qiro’ah Sab’ah selain Ibnu ‘Aamir membaca Rofa’ terhadap lafazh “QOLIILUN” sebagai Badal dari Fa’il dhamir Wau pada lafazh “FA’ALUUHU”. Sedangkan Ibnu ‘Aamir membaca “QOLIILAN” Nashob sebab Istitsna’.

2. Jika berupa MUSTASNA MUNQOTHI’, maka harus dibaca Nashob menurut jumhur mayoritas bangsa Arab. Contoh:
ما حضر الضيوفُ إلا سيارةً

MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTAN = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.

Contoh FirmanNya:
مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ

MAA LAHUM BIHII MIN ‘ILMIN ILLAA-TTIBAA’A-AZHZHONNI*
Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka (QS. An Nisaa’ : 157)

*Pada lafazh ITTIBAA’A, qiro’ah sab’ah membaca Nashob.
Sedangkan bangsa Arab Bani Tamim membaca Tabi’ atau ikut I’rob pada lafazh sebelum ILLA. Sekalipun al-Mustatsna bukan jenis bagian dari al-Mustatsna Minhu. Contoh :
ما حضر الضيوفُ إلا سيارة

MAA HADHORO ADH-DHUYUUFU ILLAA SAYYAAROTUN* = tamu-tamu tidak hadir kecuali Mobil.

*Lafazh “SAYYAAROTUN” dibaca rofa’ dijadikan Badal dari lafaz “ADH-DHUYUUFU”. Demikian ini shah karena kita boleh menyatakan:
حضر سيارة

HADHORO SAYYAAROTUN = Mobil hadir.

Apabila pernyataan dalam hal ini tidak shah, maka wajib dibaca Nashob, mufakat dari semua bangsa Arab. Contoh:
ما زاد المال إلا ما نقص

MAA ZAADA ALMAALA ILLAA MAA NAQOSHO* = harta tidak bertambah kecuali yang berkurang.

*lafazh MAA NAQOSHO (maushul dan shilah) wajib mahal Nashob, karena kita tidak boleh menyatakan:
زاد النقص

ZAADA AN-NAQSHU = kurang bertambah

Pengertian Istighatsah, Yaa dan Lam Istighotsah, Mustaghats Bih dan Mustaghots Lah » Alfiyah Bait 598-599

–·•Ο•·–

باب الاِسْتِغَاثَةُ

BAB ISTIGHATSAH
إذَا اسْتُغِيثَ اسْمٌ مُنَادَى خُفِضَا ¤ بِاللَّامِ مَفْتُوحاً كَيَا لَلْمُرْتَضَى

Apabila Isim Munada dibuat Istighotsah maka ia dijarkan oleh Lam istighatsah yg berharkat Fathah. Contoh “Yaa Lal-Murtadhaa” (Tolonglah wahai orang yg Diridhoi Allah!)
وَافْتَحْ مَعَ المَعْطُوفِ إنْ كَرَّرْتَ يَا ¤ وَفِي سِوَى ذَلِكَ بِالْكَسْرِ ائْتِيَا

Fathahkan juga Lam Istighasah yg menyertai Ma’thufnya jika kamu mengulang kata “Yaa”, selain daripada itu (tanpa mengulang Yaa pada Ma’thuf) maka gunakanlah Lam Istighotsah yg berharkat kasrah.

–·•Ο•·–

ISTIGHATSAH (minta pertolongan) : termasuk salah satu dari jenis Nida (panggilan/kata seru) yaitu menyeru pihak kedua agar membebaskan dari hal yg tidak diinginkan yg telah terjadi, atau menyerunya untuk menolak dari suatu yg tidak diinginkan agar tidak terjadi. Perangkat Istighotsah tersebut menggunakan kata “YAA”.

Contoh Istighatsah minta tolong untuk hal yg telah terjadi :
يا لَلنَّاس لِلغريق

YAA LAN-NAASI LIL GHARIIQI = wahai manusia, tolonglah orang yg tenggelam!

Contoh Istighatsah minta tolong menolak hal yg tidak diinginkan agar tidak terjadi :
يا لَلحراس لِلأعداء

YAA LAL-HURRAASI LIL-A’DAA’I = wahai pengawal, tolong awasi musuh-musuh!

Metode Istighotsah yg berfungsi sebagai permintaan tolong tersebut bisa terlaksana apabila telah memenuhi ketiga rukunnya yaitu:

1. Harus menggunakan Huruf Nida’ “YAA” bukan yg lainnya.
2. Isim yg menjadi Mustaghats Bih (pihak kedua yg dipintai pertolongan) dijarkan oleh Lam berharkat fathah selamanya, kecuali pada Mustaghats lain yg athaf pada Mustaghats pertama dengan tanpa mengulang huruf Nida’ “YAA”. Contoh:
يا لَلعلماء ولِلمصلحين لِلشباب

YAA LAL-’ULAMAA’I WA LIL-MUSLIHIINA LISY-SYABAABI = wahai para ulama dan aparat sosial, tolonglah generasi muda!.

lafazh AL-MUSHLIHIINA = asalnya bukan merupakan Mustaghots, karena tidak ada huruf Nida “Yaa” padanya, akan tetapi ia telah diathafkan pada lafazh “ULAMAA’I” maka makna Istighotsah juga dikandungnya.

Apabila pada Ma’thufnya mengulang kata “Yaa”, maka wajib Lamnya berharkat Fathah, contoh:
يا لَلوعاظ ويا لَلخطباء لِظاهرة السَّهَرِ

YAA LAL-WU’AAZHI WA YAA LAL-KHUTHOBAA’I LI ZHAAHIROTIS-SAHARI = wahai penceramah dan muballigh, tolong peringati wanita malam!

3. Isim yg menjadi Mustaghats Lah (pihak ketiga penyebab dipintanya pertolongan agar ditangani atau diberi bantuan) dijarkan oleh huruf “Lam” berharkat Kasroh seperti pada contoh-contoh diatas, atau dijarkan oleh huruf “Min”, seperti contoh:
يا لَلقاضي من شاهد الزور

YAA LAL-QODHIY MIN SYAAHIDIZ-ZUURI = wahai hakim, tolong hindari saksi palsu!

Ada beberapa pendapat Ulama Nuhat tentang status Lam yg terdapat pada Mustaghats Bih, pendapat terbaik adalah: bahwa Lam tsb adalah huruf Jar yg diharkati fathah untuk membedakan dengan Lam yg terdapat pada Mustaghats Lah.

Beberapa pendapat oleh ulama’ nuhat tentang status huruf “Lam” yg terdapat pada Mustaghats Bih. Namun pendapat yg terbaik bahwa Lam-lam tersebut adalah huruf jar. Penggunaan Lam fathah pada Mustaghats Bih untuk membedakan dengan lam kasrah pada Mustaghats Lah. Masing-masing kedua lam jar tersebut berikut majrurnya, berta’alluq pada huruf Nida’ “Yaa” sebagai pengganti Fi’il “ALTAJI’U” (aku minta tolong) atau Fi’il semacamnya.

Contoh i’robnya :
يا لَلعلماءِ لِلجهال

YAA LAL-’ULAMAA’I LIL-JUHHAALI = wahai para alim, tolonglah orang-orang bodoh!

YAA = huruf nida dan istighasah.
LAL-ULAMAA’I = LAM huruf Jar dan Istighotsah, ULAMAA’ Majrur, Jar dan Majrur berta’alluq pada YAA.
LIL-JUHHAALI = Jar dan Majrur juga berta’alluq pada YAA.

Pengertian Isim Ghair Munsharif, Mutamakkin Ghair Amkan » Alfiyah bait 649

–·•Ο•·–

مَا لا يَنْصَرِف

BAB ISIM TIDAK MUNSHARIF (Isim yg tidak bersuara tanwin)
الصَّرْفُ تَنْوِيْنٌ أتَى مُبَيِّنا ¤ مَعْنَى بِهِ يَكُونُ الاسْمُ أمْكَنَا

Sebutan “ash-Shorfu” adalah berupa “Tanwin” yg menjelaskan suatu arti: bahwa isim dengan tanwin ini disebut “Amkan” (lebih memungkinkan/lebih kuat keadaan/kedudukan isimnya).

–·•Ο•·–

Telah dijelaskan pada pelajaran dahulu “Alfiyah Bait 15. Isim Mu’rob dan Isim Mabni” bahwa Isim ada dua :

1. Isim Mabni
2. Isim Mu’rob

Isim Mabni disebut Isim Ghair Mutamakkin/Tidak Mutamakkin (tidak menduduki pangkat keisiman) dikarenakan tidak dapat menerima perubahan harkat.

Sedangkan Isim Mu’rob disebut Mutamakkin yakni menduduki pangkat keisiman dikarenakan dapat menerima perubahan tanda-tanda i’rob. Isim Mutamakkin dibagi dua :

1. Isim Mutamakkin Amkan :

yaitu Isim yg dapat dimasuki oleh Tanwin yg disebut Tanwin Tamkin atau disebut juga Tanwin Tamakkun/Tanwin Amkaniyah/Tanwin Shorf.

Definisi Tanwin Tamkin/tamakkun/amkaniyah/shorf :

Adalah Tanwin yg menunjukkan atas suatu makna “bahwa Isim yg dapat menyandang tanwin ini disebut Isim Mutamakkin Amkan”.

Penjelasan Definisi Tanwin Tamkin/tamakkun/amkaniyah/shorf :

Suatu makna, dalam difinisi tsb artinya: tidak adanya kalimah Isim serupa dengan kalimah Huruf yg menjadikan Isim Mabni, atau tidak serupa dengan kalimah Fi’il yg menjadikan Isim tidak menerima Tanwin.
Disebut Isim Mutamakkin Amkan, yakni kuatnya setatus keisimannya dikarenakan mencakupi pada dua tanda Isim “I’rob dan Tanwin”. Maka isim tersebut dinamakan “Mutamakkin” (berkedudukan) sebab menerima tanda-tanda i’rob, dan disebut “Amkan” (lebih kuat kedudukannya) sebab dapat bertanwin. dengan arti bahwa isim tersebut tidak menyerupai Fi’il yg mencegah tanwin, juga tidak menyerupai Huruf yg mencegah I’rab.
Keluar dari definisi “Menunjukkan atas suatu Makna”, adalah berupa Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh.

“Tanwin Muqabalah” ada pada Jamak Mu’anntas Salim karena status tanwin ini dipasang sebagai muqabalah/perbandingan saja dari NUN pada Jamak Mudzakkar Salim. Tanwin Muqabalah ini bisa masuk pada Isim Munsharif, contoh:
هؤلاء بناتٌ فاهماتٌ

HAA’ULAAI BANAATUN FAAHIMAATUN = mereka anak-anak perempuan yg faham.

juga masuk pada isim Ghair Munsharif, contoh :
سعادات

SU’AADAATU = beberapa Su’ad (nama perempuan).

lafazh SU’AADAATU = boleh ditanwin menjadi SU’AADAATUN karena mempertimbangkan pada asal bentuknya yaitu jama’ mu’annats salim dan disebut tanwin muqabalah bukan tanwin tamkin. juga boleh tidak ditanwin dengan mempertimbangkan keadaannya yg sebagai “Isim Alam dan Mu’annats” termasuk dari dua illat isim tidak munsharif.

“Tanwin Iwadh” bisa masuk pada Isim-Isim Munsharif seperti “KULLUN” dan “BA’DHUN” juga bisa masuk pada Isim Ghair Munsharif seperti : “DAWAA’IN” dan “LAYAALIN” (akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya InsyaAllah).

2. Isim Mutamakkin Ghair Amkan:

Isim Mutamakkin Ghair Amkan adalah bagian Isim Mu’rob yg kedua, yakni bagian Isim yg tidak dapat dimasuki oleh Tanwin atau disebut Isim Ghair Munsharif atau Isim yg tidak dapat menerima Tanwin. Disebut Mutamakkin karena dapat menerima tanda I’rob, dan disebut Ghair Amkan karena tidak bertanwin sebab serupa dengan Fi’il.

Telah disebutkan pada pelajaran lalu (Isim Tidak Munsharif) bahwa tanda Jarnya dengan Fathah, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا

WA IDZAA HUYYIITUM BI TAHIYYATIN FA HAYYUU BI AHSANA MINHAA = Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya (QS. Annisa’ : 86)

Lafazh AHSANA = tanda jarnya dengan Fathah.

Kecuali jika mudhaf atau dimasuki AL, maka dijarkan dengan Kasrah, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

LAQOD KHOLAQNAL-INSAANA FIY AHSANI TAQWIIM = sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tiin :4)

Lafazh AHSANI = Jar dengan Kasroh sebab mudhaf pada lafazh TAQWIIM.
إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ

IDZAA QIILA LAKUM TAFASSAHUU FIL-MAJAALISI FAFSAHUU YAFSAHILLAAHU LAKUM = apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu (QS. Al-Mujaadilah :11)

Lafazh AL-MAJAALISI = Jar dengan kasrah sebab dimasuki AL.

Para Nuhat telah merumuskan kaidah tentang tanda-tanda Isim Ghair Munsharif dengan tanda yg nyata, dimana jika Isim Mu’rob didapati ada tanda ini maka menunjukkan Isim tersebut adalah Ghair Munsharif, dan jika tidak didpati tanda ini maka menunjukkan isim tersebut Munsharif.
Para Nuhat menyebut tanda-tanda Isim Ghair Munsharif dengan sebutan “ILLAT” yakni bahwa isim yg tercegah kemunsharifannya dikarenakan mempunyai Dua Illat ataupun Satu Illat yg menempati maqom Dua Illat. Para Nuhat telah membahas masalah isim Ghair Munsharif ini dengan sangat panjang dengan pemikiran yg ekstra. InsyaAllah keterangannya akan dijelaskan pada keterangan bait selanjutnya secara terperinci. Aamiin.

Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah » Alfiyah Bait 457-462

–·•Ο•·–

أبْنِيَةُ أسْمَاءِ الْفَاعِلِينَ والْمَفعُولِينَ وَالصَّفاتِ المُشَبَّهةِ بِهَا

Bentuk-bentuk Isim Fa’il, Isim Maf’ul dan Sifat Musyabbahah
كَفَاعِلٍ صُغ اسْمَ فَاعِلٍ إذَا ¤ مِنْ ذِي ثَلَاثَةٍ يَكُونُ كَغَذَا

Bentuklah Isim Fa’il seperti wazan FAA’ILUN, apabila berupa Fi’il Tsulatsi. Contoh: GHODZAA (bentuk Isim Fa’ilnya GHOODIN asalnya GHOODIWUN)
وَهُوَ قَلِيلٌ فِي فَعُلْتُ وَفَعِلْ ¤ غَيْرَ مُعَدَّى بَلْ قِيَاسُهُ فَعِلْ

Isim Fa’il wazan FAA’ILUN tersebut jarang digunakan pada Fi’il wazan FA’ULA (dhommah’ain fiilnya) dan Fi’il wazan FA’ILA (karoh ‘ain fiilnya) yang tidak Muta’addi, bahkan qias Isim Fa’ilnya berwazan FA’ILUN, وَأفْعَلٌ فَعْلَانُ نَحْوُ أشِرِ ¤ وَنَحْوُ صَدْيَانَ وَنَحْوُ الأَجْهَرِ

atau wazan AF’ALUN atau wazan FA’LAANU. Contoh: ASYIRUN, SHODYAANU dan AJHARU.
وَفَعْلٌ أوْلَى وَفَعِيلٌ بِفَعُلْ ¤ كَالضَّخْمِ وَالْجَمِيل وَالْفِعْلُ جَمُلْ

Isim Fa’il wazan FA’LUN dan FA’IILUN lebih utama untuk Fi’il wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya). Contohnya DHOHMUN dan JAMIILUN Fi’ilnya berlafazh JAMULA
وَأفعَلٌ فِيهِ قَلِيلٌ وَفَعَلْ ¤ وَبِسِوَى الْفَاعِلِ قَدْ يَغْنَى فَعَلْ

Adapun Isim Fa’il berwazan AF’ALUN dan FA’LUN pada Fi’il FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) adalah jarang. Selanjutnya Fi’il wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) terkadang cukup dengan bentuk Isim Fa’il selain wazan FAA’ILUN.


–·•Ο•·–

Bab ini disimpulkan oleh Mushannif untuk menerangkan tentang wazan-wazan Isim Fa’il, Isim Maf’ul, juga Shifat Mushabbahah.
Abniyatu Asmaa’il Faa’iliina, menggunkan bentuk jamak mudzakkar salim (Faa’iliina) dimaksudkan adalah bentuk Isim subjek/pelaku yang didominasi oleh subjek berakal. Ash-shifaatil-Mushabbahati Bihaa, athaf kepada lafazh Asmaa’i, secara ringkas dapat diartikan bentuk sifat yang diserupakan Isim Fa’il dan Isim Maf’ul. Akan tetapi dijelaskan nanti pada Bab berikutnya yaitu Bab As-shifatul-Musyabbahatu bi Ismil-Faa’il. Dengan demikian dhamir “Bihaa” pada Bab ini menunjukkan bahwa Marji’nya hanya kepada Asmaa’il Faai’liina saja.

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Fi’il terbagi dua:

1. Fi’il Tsulatsi
2. Fi’il Ghair Tsulatsi

Disebutkan juga bahwa Fi’il Tsulatsi terdapat tiga wazan:

1. FA’ALA, Fathah ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
2. FA’ILA, Kasroh ‘Ain Fi’ilnya, Muta’addi atau Lazim
3. FA’ULA, Dhommah ‘Ain, Lazim.

oOo

Berikut adalah Wazan-Wazan Isim Fa’il dan Sifat Mushabbahah:

1. Fi’il berwazan FA’ALA maka Isim Fa’ilnya ikut wazan FAA’ILUN, baik Muta’addi atau Lazim.

Contoh yang Muta’addi:
ضرب – ضارب. أخذ – آخذ

DHARABA-DHAARIBUN = Yang Memukul
AKHADZA-AAKHIDUN = Yang Mengambil

Contoh yang Lazim:
جلس – جالس. خرج – خارج

JALASA-JAALISUN = Yang Duduk
KHARAJA-KHAARIJUN = Yang Keluar

oOo

2. Fi’il berwazan FA’ILA maka Isim Fa’ilnya :

a. ikut wazan FAA’ILUN apabila Muta’addi. Contoh :
ركب – راكب. شرب – شارب
RAKIBA-RAAKIBUN = Yang Menunggang
SYARIBA-SYAARIBUN = Yang Meminum

b. Juga ikut wazan FAA’ILUN apabila Lazim tapi jarang. Contoh:
سلم – سالم. عقرت -عاقر

SALIMA-SAALIMUN = Yang Selamat/Sentosa
‘AQIRAT-’AAQIRUN = Yang Mandul

d. apabila Lazim paling banyak ikut wazan:

1. FA’ILUN (lk) FA’ILATUN (pr). biasanya menunjukkan tentang makna penyakit-penyakit jasmani atau tabiat atau sifat-sifat batin semisal kebahagiaan, kesedihan, kebaikan dll. Contoh:
فطِنَ – فَطِنٌ

FATHINA -FATHINUN = yang cerdas
فرح – فرِحٌ

FARIHA-FARIHUN = yang gembira
بَطِر – بَطِرٌ

BATHIRA-BATHIRUN = yang angkuh/tidak mensyukuri Nikmat.
وحَذِرَ – حَذِرٌ

HADZIRA-HADZRUN = yang berhati-hati/waspada
وتَعِب – تعب

TA’ABA-TA’IBUN = yang payah/cape‘

2. AF’ALA (lk) FA’LAA’A (pr). biasanya menunjukkan tentang makna keadaan bentuk corak atau warna atau cacat. Contoh:
حَمِر فهو أحمر

HAMIRA-AHMARA = yang merah
عرج فهو أعرج

‘ARIJA-A’RAJA = yang pincang
عور فهو أعور

‘AWIRA-A’WARA = yang jahat/tidak baik
كحل فهو أكحل

KAHILA-AKHALA = yang hitam

oOo

3. Fi’il berwazan FA’ULA maka Isim Fa’ilnya :

a. juga ikut wazan FAA’ILUN tapi jarang. Contoh :
طهُر فهو طاهر

THAHURA-THAAHIRUN = yang bersih/suci
حمُضَ فهو حامض

HAMUDHA-HAAMIDHUN = yang masam

b. Yang banyak ikut wazan :

1. FA’LUN, contoh:
ضحُم – ضخْم

DHAKHUMA-DHAKHMUN = Yang Gemuk
شهُم – شهْم

SYAHUMA-SYAHMUN = yang tangkas/cekatan
صَعُب فهو صَعْب

SHA’UBA-SHA’BUN = yang sulit

2. FA’IILUN, contoh:
شرُف فهو شريف

SYARUFA – SYARIIFUN = yang mulia
نبل فهو نبيل

NABULA – NABIILUN = yang mulia
وقبُح فهو قبيح

QABUHA – QABIIHUN = yang jelek/tidak baik

c. sedikit ikut wazan :

1. AF’ALA, contoh:
خظب فهو أخظب

KHATZABA-AKHTHABA = yang merah kehitaman

2. FA’ALA, contoh:
حَسُن فهو حَسنٌ

HASUNA – HASANUN = yang bagus
وبَطُل فهو بطلٌ

BATHULA – BATHALUN = yang juara/pahlawan

o0o

Kadang-kadang ada Fi’il Ttsulatsi wazan FA’ALA (fathah ‘ain fi’ilnya) tercukupi tanpa mengikuti wazan Isim Fa’il FAA’ILUN, seperti contoh:
طاب فهو طيب

THAABA – THAYYIBUN = yang baik
شاخ فهو شيخ

SYAAKHA – SYAIKHUN = yang tua
شاب فهو أشيب

SYAABA – ASY-YABU = yang muda

oOo

Kemudian disebutkan oleh mushannif pada Bait diatas (lihat bait ke 458 dan 459). Dapat difahami bahwa Isim Fa’il wazan FAA’ILUN jarang digunakan untuk kedua Fi’il wazan FA’ULA dan juga FA’ILA, yakni bentuk wazan Isim Fa’il FAA’ILUN banyak digunakan pada selain kedua wazan fi’il FA’ULA dan FA’ILA. Selanjutnya dijelaskan bahwa bentuk Isim Fa’il dari keduanya berwazan FA’ALA, AF’ALA dan FA’LAANA. Dan dicontohkan dalam Bait oleh Mushannif dengan contoh sbb:
أشِرَ – أشِرٌ

ASYIRA – ASYIRUN = yang angkuh/tidak menyukuri Nikmat.
صَدِيَ – صديان

SYADIYA – SHADYAANU = yang kehausan
جَهِر – أجهر

JAHIRA – AJHARU = yang tak dapat melihat di siang hari

oOo

Pengertian Idhafah (Idhofah = Sununan Mudhaf dan Mudhof Ilaih) » Alfiyah Bait 385-386-387

الإضافة

BAB IDHAFAH (MUDHAF DAN MUDHOF ILAIH)
نُوناً تَلِي الإعْرَابَ أو تَنْوِينَا ¤ ممّا تُضِيفُ احْذِفْ كَطُورِ سِينَا

Terhadap Nun yang mengiringi huruf tanda i’rob atau terhadap Tanwin dari pada kalimah yg dijadikan Mudhaf, maka buanglah! demikian seperti contoh: THUURI SIINAA’ = Gunung Sinai.
وَالثَّانِيَ اجْرُرْ وانو من أَوْ فِي إذا ¤ لَمْ يَصْلُحِ الّا ذَاكَ وَالّلامَ خُذَا

Jar-kanlah! lafazh yg kedua (Mudhof Ilaih). Dan mengiralah! makna MIN atau FIY bilamana tidak pantas kecuali dengan mengira demikian. Dan mengiralah! makna LAM … .
لِمَا سِوَى ذَيْنِكَ واخصص أولا ¤ أو أعطه التعريف بالذي تلا

pada selain keduanya (selain mengira makna Min atau Fiy). Hukumi Takhshish bagi lafazh yg pertama (Mudhaf) atau berilah ia hukum Ta’rif sebab lafazh yg mengiringinya (Mudhaf Ilaih).

–·•Ο•·–

Setelah Bab Majrur sebab Huruf, selanjutnya Mushannif membahas tentang Majrur sebab Idhofah.

Pengertian Idhafah/Susunan Mudhaf dan Mudhof Ilaih adalah: Penisbatan secara Taqyidiyah (pembatasan) di antara dua lafazh yang mengakibatkan lafazh terakhir selalu di-jar-kan.

Contoh kita mengatakan:
كتاب

KITABUN* = Kitab/Buku

*Lafazh KITAABUN di sini masih bersifat Mutlak/umum belum ada Taqyid/pembatasan.

Contoh apabila kita berkata:
كتاب زيد

KITAABU ZAIDIN* = Kitab/Buku Zaid

Lafazh KITAABU = Mudhof
Lafazh ZAIDIN = Mudhaf Ilaih
Dengan demikian terjadilah Taqyid/pembatasan sebab Idhafah yakni memudhofkan lafazh KITAABUN kepada lafazh ZAIDUN.

Apabila dikehendaki Isim mudhaf pada Isim lain, maka perhatikan hukum-hukum yg berkenaan dengan Idafah, sebagai berikut:

Hukum Idhafah Pertama:

Wajib membuang Tanwin pada akhir kalimah isim yg menjadi Mudaf. apabila sebelum dijadikan Mudof ia mempunyai Tanwin.

Contoh sebelum susunan Idofah:
ركبت سيارة جديدة

ROKIBTU SAYYAAROTAN JADIIDATAN* = aku mengendarai Mobil Baru

Contoh menjadi Mudhaf tanwinnya dibuang:
ركبت سيارة زيد

ROKIBTU SAYYAAROTA ZAIDIN* = aku mengendarai Mobilnya Zaid.

Juga wajib membuang NUN pada akhir Isim Mutsanna, Jamak Mudzakkar Salim, dan Mulhaq-mulhaqnya, apa dimudhofkan. yaitu huruf NUN yg mengiringi huruf Tanda I’rob (yakni Nun yg ada setelah Wawu/Ya’ pada Jamak Mudzakkar Salim, atau Alif/Ya’ pada Isim Tatsniyah). contoh:
يسير الناس على جانبي الشارع

YASIIRUN-NAASA ‘ALAA JAANIBAYISY-SYAARI‘* = orang-orang berjalan di dua sisi pinggir jalan raya.
حاملو العلم محترمون

HAAMILUL-’ILMI MUHTAROMUUN* = orang yg punya ilmu mereka dihormati.

Jika Huruf NUNnya bukan Nun Tatsniyah atau Nun Jamak yakni bukan Nun yg mengiringi Huruf tanda I’rob, maka tidak boleh membuangnya. contoh:
المحافظة على الصلاة عنوانُ الاستقامة

AL-MUHAAFAZHOTU ‘ALASH-SHOLAATI ‘UNWAANUL-ISTIQOOMAH* = menjaga sholat adalah pertanda istiqomah.

Hukum Idofah Kedua:

I’rob Jar bagi Mudhaf Ilaih. Adapun amil Jar-nya adalah lafazh yg menjadi Mudhaf -demikian menurut Qoul yg shahih- alasannya: Lafazh Dhamir yg menjadi Mudhaf Ilaih dapat bersambung langsung dengan lafazh yg menjadi Mudhaf, yang mana dhamir tsb tidak akan bersambung kecuali kepada Amilnya, contohnya:
كتابك جديد

KITAABUKA JADIIDUN = Kitabmu baru.

Hukum Idhafah ketiga:

Wajib menyimpan Huruf Jar Asli yg ditempatkan antara Mudhaf dan Mudhaf Ilaih. Untuk memperjelas hubungan pertalian makna antara Mudaf dan Mudhaf Ilaeh-nya. Huruf-huruf simpanan tersebut berupa MIN, FIY dan LAM.

1. Idhafah menyimpan makna huruf MIN Lil-Bayan apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa jenis dari Mudhaf. contoh:
خاتمُ ذهبٍ

KHOOTAMU DZAHABIN = cincin dari emas

Takdirannya adalah KHOOTAMUN MIN DZAHABIN’

2. Idhafah menyimpan makna huruf FIY Liz-Zharfi apabila Mudhaf Ilaih-nya berupa Zhorof bagi lafazh Mudhof. contoh:
عثمان شهيد الدار

‘UTSMAANU SYAHIIDUD-DAARI = Utsman Ra. adalah seorang yg mati Syahid di rumah.

Takdirannya adalah ‘UTSMAANU SYAAHIDUN FID-DAARI.

Atau berupa Zharaf Zaman.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an:
بَلْ مَكْرُ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ

BAL MAKRUL-LAILI WAN-NAHAARI = “(Tidak) sebenarnya tipu daya(mu) di waktu malam dan siang (yang menghalangi kami) (QS. Saba’ : 33)

Takdirannya MAKRUN FIL-LAILI.
لِلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ

LILLADZIINA YU’LUUNA MIN-NISAA’IHIM TAROBBUSHU ARBA’ATI ASYHURIN = Kepada orang-orang yang meng-ilaa’ isterinya diberi tangguh empat bulan (lamanya). (QS. Al-Baqarah :226)

Takdirannya TAROBBUSHUN FIY ARBA’ATI ASYHURIN.

3. Idhafah menyimpan makna huruf LAM apabila tidak bermakna MIN atau FIY. contoh:
هذا كتاب زيد

HADZAA KITAABU ZAIDIN = ini kitab milik Zaid

Takdirannya: HADZAA KITAABUN LI ZAIDIN.
LAM berfungsi sebagai Lil-Mulk/Lil-Ikhtishosh Kepemilikan/Kewenangan.

Demikian Hukum-hukum yg berhubungan dengan Idhafah maknawi belum Idhofah Lafzhi yg akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya, berikut hukum-hukum Idhofah yg belum disebut disini.