Selasa, 20 November 2012

Fi’il Mudhari’ Majzum oleh Amil Jawazim: LAA Nahi, LAM Amar, Huruf Syarat (IN, IDZMA), Isim Syarat (MAN, MA, MAHMA, AYYUN, MATA, AYYANA, AINA, HAITSUMA, ANNAA) لا لام إن من ما مهما أي متى أيان أين إذما حيثما أنى » Alfiyah Bait 696-697

عوامل الجزم

Amil-amil Jazem
بِلَا وَلَامٍ طَالِباً ضَعْ جَزْمَا ¤ فِي الْفِعلِ هكَذَا بِلَمْ وَلَمَّا

Posisikan Jazem pada Fi’il Mudhari’ sebagai Tholab sebab dimasuki LAA (Nahi) atau Lam (Amar). Demikian juga jazem sebab LAM (Nafi) dan LAMMAA (Nafi)
وَاجْزِمْ بِإنْ وَمَنْ وَمَا وَمَهْمَا ¤ أيٍّ مَتَى أيَّانَ أيْنَ إذْ مَا

Juga Jazemkan! (pada dua Fi’il) sebab IN, MAN, MAA, MAHMAA, AYYUN, MATAA, AYYAANA, AINA, IDZMAA,…
وَحَيْثُمَا أنَّى وَحَرْفٌ إذْ مَا ¤ كَإِنْ وَبَاقِي الأَدَوَاتِ أَسْمَا

HAITSUMAA dan ANNAA. Adapun IDZMAA berupa Kalimah Huruf (Huruf Syarat) seperti halnya IN. Sedangkan Amil Jazem/Adawat Syarat sisanya (selain “Idzmaa” dan “In”) berupa Kalimah Isim (Isim Syarat).

–·•Ο•·–

Pada Bab sebelumnya diterangkan bahwa Fi’il Mudhari mempunyai tiga I’rob ROFA, NASHAB dan JAZEM. Mengenai keterangan Rofa’ dan Nashabnya telah dibahas pada Bab I’rob Fi’il. Selanjutnya pada Bab Amil-amil jazem disini akan membahas mengenai Fi’il Mudhari’ Jazem/Majzum. Nazham Bab ini sebenarnya bagian atau Fasal dari Bab sebelumnya, karena masih tergolong dari pembahasan Bab I’rob Fi’il. Dibuatkan Bab khusus oleh Mushannif dikarenakan panjangnya pembahasannya.

Amil Jazm terbagi dua:

1. Menjazemkan satu fi’il

2. Menjazemkan dua fi’il

Amil Jazem pada satu Fi’il ada 5 :

1. Tholab

Sebagai jawab dari AMAR/NAHI sebagaimana telah dijelaskan pada Bab Irob Fi’il sebelumnya, tepatnya pada Bait ke 689-690.

2. لا LAA Tholabiyah.

Disebut LAA Nahiy, apabila diucapkan dari yg lebih tinggi kepada yg lebih rendah derajatnya, contoh dalam Al-Qur’an :
يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Yaa bunayya LAA TUSYRIK billaahi innasy-syirka lazhulmun ‘azhiim = “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman 13).

Disebut LAA Du’a, apabila diucapkan dari yg lebih rendah kepada yg lebih tinggi, contoh dalam Al-Qur’an :
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا

Robbanaa LAA TU’AAKHIDZNAA in nasiinaa aw akhtho’naa = “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.

Disebut LAA Iltimas, jika diucapkan pada sesamanya, contoh ucapan seseorang pada teman sejawatnya :
لا تتأخر في الحضور

LAA TATA’AKHKHOR fil-hudhuuri = Jangan terlambat hadir!

3. لـ Lam Tholab

Ababila diucapkan dari yg lebih tinggi kepada yg lebih renda derajatnya maka disebut Amar, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ

LI YUNFIQ dzuu sa’atin min sa’atihi = Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. (QS Ath-Thalaq 7)

Ababila diucapkan dari yg lebih rendah kepada yg lebih tinggi derajatnya maka disebut Du’a, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَنَادَوْا يَا مَالِكُ لِيَقْضِ عَلَيْنَا رَبُّكَ

Wa naadaw yaa maalik LI YAQDHI ‘alainaa robbuka = Mereka berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.”

Ababila diucapkan pada sesamanya maka dinamakan Iltimas, contoh ucapan seseorang pada teman sejawatnya :
لتأخذْ هذا الكتاب

LI TA’KHUDZ hadzal kitaaba = Ambillah kitab ini.

Perlu diketahui bahwa harkat Lam Tholab adalah kasroh (LI). Dan jika jatuh sesudah Fa’ atau Wawu maka yg banyak diharkati Sukun, contoh :
فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي

FALYASTAJIIBUU lii WALYU’MINUUNII bii = maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku (QS. Al-baqarah 186).

Dan terkadang diharkati Sukun jika jatuh sesudah TSUMMA, contoh :
ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ

TsummaLYAQTHO’ faLYANZHUR = kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan (QS. Al-Hajj 15)

4. لم LAM Nafi

Adalah huruf nafi yg khusus masuk pada Fi’il Mudhari’ serta menjazemkannya, merubah zamannya dari Hal atau Istiqbal kepada zaman Madhi, contoh Ayat Al-Qur’an :
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

LAM YALID wa LAM YUULAD = Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan (QS Al-Ikhlash 3)

Sebagai pengecualian apabila LAM Nafi dimasuki oleh adawat syarat, maka fungsi perubahan zaman dari Hal/Istiqbal ke zaman madhi menjadi batal, maka LAM nafi disini diberlakukan khusus untuk zaman Istiqbal. Contoh pada Ayat Al-Qur’an berikut:
فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

Fa in LAM TAF’ALUU fa’dzanuu bi harbin minallaahi wa rosuulihi = Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (QS al-Baqarah 279)

I’rob :

Lafazh TAF’ALUU = dijazemkan dengan membuang Nun karena Af’alul Khomsah. Amil Jazemnya dalam hal ini boleh LAM Nafi karena khusus masuk pada Fi’il Mudhari. Dan boleh IN Syarthiyah karena lebih awal dan lebih kuat beramal baik pada zamnnya (Istiqbal) dan lafazhnya (Jazem).

Terkadang LAM Nafi dimasuki oleh Hamzah Istifham Taqririy (yg berfungsi sebagai penetapan kepada mukhotob), maka pengamalan LAM Nafi tetap berlaku dan banyak ditemukan di dalam Ayat-ayat Al-Quran, contoh :
أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ

ALAM NASYROH laka shodrok = Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? (QS. Alam Nasyrah 1).

5. لما LAMMAA (Amil Jazem)

Khusus masuk pada Fi’il Mudhari’ dan menjazemkannya. Bersekutu dengan LAM dalam hal sama-sama berupa Kalimah huruf, Amil Jazem, Merubah zaman ke Madhi, boleh dimasuki Hamzah Istifham, dan sama-sama Huruf Nafi namun untuk LAMMA lebih mencapai penafiannya dari Madhi hingga Hal/sekarang.

Contoh ayat dalam Al-Qur’an :
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

Qoolatil-a’roobu aamannaa, qul LAM TU’MINUU walaakin quuluu aslamnaa wa LAMMAA YADKHULIL-iimaanu fii quluubikum = Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman.” Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS Al Hujuraat 14)

I’rob :

LAM dan LAMMA = Huruf Nafi, Amil Jazem, dan merubah zaman.

TU’MINUU = Fi’il Mudhari’ Majzum sebab Amil Jazem LAM, tanda jazemnya membuang huruf Nun karena Af’alul-Khosah.

YADKHULil = Fi’il Mudhari’ Majzum sebab Amil Jazem LAMMAA, tanda jazemnya sukun, diharkati kasroh karena bertemu dua huruf mati yakni bertemu dengan AL.

Perbedaan penggunaan LAMMAA dan LAM

Ada beberapa hal yg menjadi ciri khas LAMMAA :

1. Kebolehannya membuang Majzumnya dan cukup berhenti di kata LAMMAA sekalipun pada situasi Ikhtiyar (longgar dalam sebuah perkataan) contoh :
قاربت مكة ولما

QOOROBTU MAKKATA WA LAMMAA = aku sudah mendekati Mekkah dan masih belum.

Yakni takdirannya :
قاربت مكة ولما أدخلْها

QOOROBTU MAKKATA WA LAMMAA ADKHUL HAA = aku sudah mendekati kota mekkah dan masih belum memasukinya.

2. Wajibnya penempatan waktu penafian dari zaman Madhi (sebelum masa pembicaraan) hingga zaman Haal (ketika pembicaraan). Contoh :
أعجبني تفسير ابن كثير وحسن طباعته ولما أشتره

A’JABANIY TAFSIIRU IBNI KATSIIRI WA HUSNU THIBAA’ATIHII WA LAMMAA ASYTARIHI = Tafsir Ibnu Katsir berikut pencetakanya yg bagus itu membuatku kagum, dan aku belum membelinya.

Yakni tidak membelinya pada masa lalu dan tidak pula hingga sekarang.

3. Bolehnya Fi’il yg dijazemkannya tersebut berupa kejadian yg dapat terjadi. Contoh :
وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ

wa LAMMAA YADKHULIL-iimaanu fii quluubikum = karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu (QS Al Hujuraat 14)

Yakni belum beriman hingga sekarang dan suatu saat nanti boleh jadi beriman.
بَلْ لَمَّا يَذُوقُوا عَذَابِ

BAL LAMMAA YADZUUQUU ‘ADZAABI = dan sebenarnya mereka belum merasakan azab-Ku. (QS. Shaad 8)

Yakni belum merasakan Azab sekarang dan boleh akan merasakannya nanti.

Oleh karena itu tidak boleh mempergunakan LAMMAA untuk peristiwa yg tidak akan mungkin terjadi, maka tidak boleh mengatakan :
لَمَّا يَجمع الليل والنهار

LAMMAA YAJMA’ ALLAILU WAN-NAHAARU = Malam dan siang belum berkumpul.

Sebab malam dan siang memang tidak mungkin bersatu.

Ada beberapa hal yg menjadi ciri khas LAM Nafi :

1. Dapat dimasuki sebagian Adawat Syarat, contoh dalam Al-Qur’an :
وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

WA MAN LAM YATUB FA ULAAIKA HUMUZH-ZHAALIMUUN = dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS Al-Hujuraat 11)
وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

WA IN LAM TAF’AL FAMAA BALLAGHTA RISAALATAHU = Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. (QS. Al-Maaidah 67)

Berbeda dengan Amil Jazem LAMMA yg tidak boleh jatuh sesudah ataupun sebelum adawat Syarat.

2. Kebolehannya makna penafian Fi’il Mudhari’ terlepas sebelum masa pembicaraan, contoh dalam Al-Qur’an :
هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنسَانِ حِينٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُن شَيْئاً مَّذْكُوراً

HAL ATAA ‘ALAL-INSAANI HIINUN MINAD-DAHRI LAM YAKUN SYAI’AN MADZKUUROO = Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? (QS. Al-Insaan 1)

Yakni dulu dan sekarang manusia sudah ada.

Dan terkadang ada yg tetap berlanjut tanpa terlepas hingga masa pembicara, contoh dalam Al-Qur’an :
وَلَمْ أَكُن بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيّاً

WA LAM AKUN BI DU’AA’IKA ROBBI SYAQIYYAA = dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS Maryam 4).

Dengan mengetahui perbedaan masa antara LAM Nafi dan LAMMAA Nafi, maka benar mengatakan :
لم يحضر الضيف وقد حضر

LAM YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD HADHARA = tamu itu tidak datang dan telah datang.

Tidak benar mengatakan :
لما يحضر الضيف وقد حضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD HADHARA = tamu itu belum datang dan telah datang.

Yang benar mengatakan :
لما يحضر الضيف وقد يحضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA QOD YAHDHURU = tamu itu belum datang dan terkadang datang.

Atau benar mengatakan :
لما يحضر الضيف وسوف يحضر

LAMMAA YAHDHUR ADH-DHAIFU WA SAUFA YAHDHURU = tamu itu belum datang dan akan datang.

000

Amil Jazem pada dua Fi’il, sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Malik pada Bait diatas semua berjumlah 11.

Amil Jawazim tsb ada yg berupa Kalimah Isim yg menempati mahal/posisi I’rob. Dan ada yg berupa Kalimah Harf tanpa menempati mahal I’rob. Mengenai ini, InsyaAllah akan dijelaskan satu-persatu mengingat pentingnya mengetahui posisi didalam I’robnya. Semoga Allah memberi kemudahan khususnya bagi saya dan bagi antum semua pencinta Bahasa Arab. Aamiin.

1. إن IN

Kalimah Huruf, Huruf Syarat, Amil Jazm dan tidak menempati posisi I’rob. Berfungsi sebagai pencetus timbulnya Jawab atas adanya Syarat, tanpa memberlakukan penunjukan Zaman dan Makan (waktu dan tempat) ataupun Aqil dan Gharu Aqil (berakal dan tidak).

Contoh :
إن تصحب الأشرار تندمْ

IN TASHHABIL-ASYROORO TANDAM = jika kamu temani orang-orang jahat niscaya kamu menyesal.

Contoh dalam AL-Qur’an :
إِن يَشَأْ يُذْهِبْكُمْ

IN YASYA’ YUDZHIBKUM = Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu.

2. من MAN

Isim Syarat, Amil Jazem, Mabni Sukun, digunakan untuk yg berakal.

MAN Syarat menempati posisi ROFA’ sebagai MUBTADA’ apabila :

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL LAZIM.

Contoh :
من يكثرْ كلامه يكثرْ ملامه

MAN YAKTSUR KALAAMUHU YAKTSUR MALAAMUHU = barang siapa yg banyak bicaranya maka banyak celaannya.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا

MAN JAA’A BIL-HASANATI FALAHUU KHAIRUN MINHAA = Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya (QS. Annaml 89)

I’rob :

MAN = Isim Syarat, Amil Jazem, Mabni Sukun dalam posisi Rofa’ menjadi Mubtada’.

JAA’A = Fi’il Madhi Mabni Fathah dalam posisi Jazem menjadi Fi’il Syarat.

FALAHUU KHAIRUN MINHUM = Jawab Syarat dalam posisi Jazem.

Jumlah Syarat disini sebagai Khobar dari Mubtada’ menurut qoul yg lebih rojih.

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL NAWASIKH

Contoh :
من يكنْ عجولاً يكثرْ خطؤه

MAN YAKUN ‘UJUULAN YAKTSUR KHOTHO’UHU = barang siapa terburu-buru niscaya akan banyak kekeliruannya.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ

MAN KAANA YURIIDU HARTSAL-AAKHIROTI NAZID LAHU FI HARTSIHI = Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya. (QS. Asy-Syuura 20)

I’rob :

MAN = Mubtada’

KAANA = Fi’il Madhi, Fi’il Syarat. Isimnya dhamir mustatir yg merujuk pada MAN.

YURIIDU = Khobar Jumlah.

NAZID LAHU = Jawab Syarat.

KAANA + YURIIDU = Jumlah dalam mahal Rofa’ menjadi Khobar dari Mubtada MAN.

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL MUTA’ADDI kepada selainnya :

Contoh:
من يحترم الناس يحترموه

MAN YAHTARIM AN-NAASA YAHTARIMUU HU = barang siapa menghormati orang lain maka orang lain menghormatinya.

Contoh dalam Al-Qur’an :
مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ

MAN YA’MAL SUU’AN YUJZA BIHI = Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu (QS. An-Nisaa’ 123)

I’rob :

MAN = Isim Syarat, Amil Jazm, mabni sukun, mahal rofa’ menjadi Mubtada.

YA’MAL = Fi’il Syarat, dijazemkan dengan sukun, Faa’ilnya berupa dhamir mustatir Jawazan takdirannya Huwa merujuk pada MAN. Jumlah Fiil Syarath ini sebagai khobar jumlah dari mubtada’ MAN.

SAWAA’AN = Maf’ul Bih, Manshub dengan Fathah.

YUJZA = Jawab Syarat, Majzum dg membuang huruf Illat Alif.

MAN Syarat menempati posisi NASHAB sebagai MAF’UL BIH apabila :

> Fi’il Syaratnya berupa FI’IL MUTA’ADDI kepada dirinya :

Contoh :
من تساعد أساعده

MAN TUSAA’ID USAA’ID HU = kepada siapa pun kamu membantu niscaya aku ikut membantunya.

I’rob :

MAN = Mahal Nashab menjadi Maf’ul Muqaddam.

MAN Syarat menempati posisi JARR apabila diawali dengan huruf Jar atau menjadi Mudhaf Ilaih. Contoh :
عمن تتعلم أتعلم

AN-MAN TATA’ALLAM ATA’ALLAM = dari siapa pun kamu belajar niscaya aku ikut belajar.
كتاب من تقرأ أقرأ

KITAABA MAN TAQRO’ AQRO’ = kitab siapa pun kamu baca niscaya aku ikut baca.

3. ما MAA

Isim Syarat, Amil Jazm, digunakan untuk yg tidak berakal, dii’rob seperti keterangan I’rob pada MAN.

Contoh :
ما تنفق من خير تجد ثوابه

MAA TUNFIQ MIN KHAIRIN TAJID TSAWAABAHU = apa saja yg kamu nafakahkan dari nafaqah baik, niscaya kamu akan mendapat pahalanya.

Contoh dalam Al-Qur’an :
مَا نَنْسَخْ مِنْ آيَةٍ أَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِنْهَا أَوْ مِثْلِهَا أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

MAA NANSAKH MIN AAYATIN AW NUNSI HAA NA’TI BI KHAIRIN MINHAA AW MITSLIHAA, ALAM TA’LAM ANNALLAAHA ‘ALAA KULLI SYAI’IN QODIIR = Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu? (QS. Al-Baqarah 106).

I’ROB :

MAA = Isim Syarat, Amil jazem, Mabni Sukun, dalam mahal Nashab menjadi Maf’ul Bih Muqaddam.

NANSAKH = Fi’il Syarat.

NA’TI = Jawab Syarat, dijazemkan dengan membuang huruf illat Ya’.

4. MAHMAA مهما

Isim Syarat, Amil Jazem (menurut qoul rojih), untuk yg tidak berakal. Menempati posisi I’rob seperti Isim Syart “MAA”.

Contoh :
مهما تنفق في الخير يخلفْه الله

MAHMAA TUNFIQ FI’L-KHAIRI YUKHLIFHU ALLAAHU = apapun jua kamu bernafaqah di dalam kebaikan niscaya Allah akan menggantikannya.

Contoh dalam Al-Qur’an :
وَقَالُواْ مَهْمَا تَأْتِنَا بِهِ مِن آيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَا فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِينَ

WA QAALUU MAHMAA TA’TINAA BIHII MIN AAYATIN LITAS-HARONAA BIHAA FAMAA NAHNU LAKA BI MU’MINIIN. = Mereka berkata: “Bagaimanapun kamu mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu, maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu.” (QS, Al-A’raaf 132)

I’rob :

MAHMAA = Isim Syarat, Amil Jazm, Mabni Sukun dalam Mahal Rofa’ sebagai Mubtada’.

TA’TINAA = Fi’il Syarat berikut Fa’ilnya menjadi khobar dari Mubtada’ Mahmaa.

FAMAA NAHNU LAKA BI MU’MINIIN = Jawab Syarat dalam Mahal Jazem.

5. AYYUN اي

Isim Syarat, Amil Jazem, status I’robnya dipertimbangkan menurut mudhaf ilaihnya.

Contoh mudhaf pada yg berakal :
أيُّهم يقم أقم معه

AYYUHUM YAKUM AKUM MA’AHU = siapapun dari mereka berdiri niscaya aku ikut berdiri bersamanya.

AYYUHUM = sebagai Mubtada’

Contoh mudhaf pada yg tidak berakal :
أيّ الكتب تقرأ أقرأ

AYYAL-KUTUBI TAQRO’ AQRO’ = apapun kitab yg kamu baca niscaya aku mau membacanya.

AYYAL-KUTUBI = sebagai Maf’ul Muqaddam.

Contoh mudhaf pada Isim Zaman :
أيّ يوم تسافر أسافر

AYYA YAUMIN TUSAAFIR USAAFIR = Di hari apapun kamu pergi niscaya aku ikut pergi.

AYYA YAUMIN = sebagai Zharaf Zaman

Contoh mudhaf pada Isim Makan :
أيَّ بلد تسكن أسكن

AYYA BALADIN TASKUN ASKUN = Di negri manapun kamu berhenti niscaya aku ikut berhenti.

AYYA BALADIN = sebagai Zharaf Makan

Contoh mudhaf pada Mashdar :
أيّ نفع تنفع الناس يشكروك عليه

AYYA NAF’IN TANFA’IN-NAASA YASYKURUUKA ‘ALAIHI = apapun manfa’at yg kamu berikan kepada manusia, niscaya mereka akan bersyukur atasnya.

AYYA NAF’IN = sebagai Maf’ul Muthlaq

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
أَيّاً مَّا تَدْعُواْ فَلَهُ الأَسْمَاء الْحُسْنَى

Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)

I’rob :

AYYAN = Isim Syarat, Amil Jazem, dinashabkan menjadi Maf’ul Bih muqaddam.

MAA = Huruf Zaidah sebagai penaukidan makna.

TAD’UU = Fi’il Syarat, dijazemkan dengan membuang huruf Nun termasuk dari Af’alul-Khomsah, faa’ilnya berupa wawu dhamir jamak.

FALAHUL-ASMAA’UL-HUSNAA = Jawab Syarath, menempati mahal Jazem.

Tanwin pada lafazh AYYAN adalah tanwin iwadh pengganti dari mudhaf ilaihnya yg dibuang takdirannya AYYA ISMIN.

Huruf MAA Zaidah, demikian menurut salah satu qoul yakni sebagai Taukid bagi lafazh AYYUN yg samar. Sedangkan menurut qoul yg lain, MAA juga sebagai Isim Syarat dan berkumpulnya kedua Syarat tersebut sebagai Taukid.

6. MATAA متى

Isim Syarat, Amil Jazem. Penggunaannya untuk penunjukan zaman secara mutlak, kemudian dicakupi pada penggunaan makna Syarat, secara posisi I’robnya ia menempati mahal Nashab atas Zharaf Zaman.

Contoh :
متى يأت فصل الصيف ينضج العنب

MATAA YA’TI FASHLUSH-SHAIFU YANDHAJ AL-’INABU = bilamana datang musim panas maka masaklah buah anggur.

7. AYYAANA أيان

Isim Syarat dan Amil Jazem serupa penggunaannya dengan MATAA.

Contoh :
أيان يكثر فراغ الشباب يكثر فسادهم

AYYAANA YAKTSUR FARAAGHUSY-SYABAABI YAKTSUR FASAADUHUM = bilamana muda-mudi banyak nganggurnya maka banyak pula rusaknya.

I’rob :

AYYAANA = Isim Syarath Amil Jazem, Mabni Fathah pada posisi Nashab menjadi Zharaf.

YAKTSUR = Fi’il Syarat.

YAKTSUR FASAADUHUM = Jawab Syarat, Fasaaduhum sebagai Faa’ilnya.

Contoh MATAA dan AYYAANA Syartiyah di dalam Al-Qur’an tidak ditemukan.

8. AINA أين

Isim Syarat dan Amil Jazem, diutamakan bersambung dengan MAA untuk memungkinkan makna Syarat. Penggunaannya untuk penunjukan makan/tempat, kemudian dicakupi pada penggunaan makna Syarat, secara posisi I’robnya ia menempati mahal Nashab atas Zharaf Makan.

Contoh :
أينما تذهب أصحبْك

AINAMAA TADZHAB ASHHABKA = ke mana pun kamu pergi, aku menemanimu.

Contoh dalam Al-Qur’an :
أَيْنَمَا يُوَجِّههُّ لاَ يَأْتِ بِخَيْرٍ

AINAMAA YUWAJJIHHU LAA YA’TI BI KHAIRIN = ke mana saja dia disuruh oleh penanggungnya itu, dia tidak dapat mendatangkan suatu kebajikanpun. (QS. An-Nahl 76)

I’rob :

AINA = Isim Syarat dan Amil jazem, Mabni Fathah dalam posisi Nashab sebagai Zharaf Makan yang berta’alluq pada lafazh YUWAJJIHHU.

MAA = sebagai Taukid.

YUWAJJIHHU = Fi’il Syarat, HU dhamir menjadi Maf’ul Bih.

LAA YA’TI BI KHAIR = Jawab Syarat, YA’TI dijazemkan dengan membuang huruf Illat Ya’.
أَيْنَمَا تَكُونُواْ يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ

AINAMAA TAKUUNUU YUDRIKKUMUL-MAUTU = Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu (QS. Annisaa’ 78)

I’rob :

AINAMAA = idem, zharaf makan berta’alluq pada lafazh “YUDRIKKUM”

TAKUUNUU = Fi’il Syarat, Wawu dhamir manjadi Fa’ilnya, tashrif dari KAANA Tamm, bimakna TUUJIDUU (kamu berada).

YUDRIKKUM = Jawab Syarat.

9. IDZMAA إذما

Termasuk dari Huruf Syarat dan Amil Jazem (menurut qaul yg lebih rojih), tidak menempati mahal I’rob (laa mahalla minal I’rob) digunakan khusus hanya untuk menggantungkan Jawab pada Syarat seperti faidah IN syarthiyah. Bersambung dengan MAA Zaidah untuk menjadikannya sebagai Amil Jazem.

Contoh :
إذما تفعل شراً تندمْ

IDZMAA TAF’AL SYARRAN TANDAM = jikalau kamu kerjakan kejelekan, maka kamu menyesal.

I’rob :

IDZMAA = Huruf Syarat Amil Jazm, Mabni sukun tanpa menempati mahal I’rob.

TAF’AL = Fi’il Syarat.

TANDAM = Jawab Syarat.

Tidak ditemukan contohnya dalam Al-Qur’an.

10. HAITSUMAA حيثما

Isim Syarat dan Amil Jazem, bersambung dengan MAA zaidah merupakan syarat Amil Jazemnya, menempati Mahal I’rob Nashab sebagai Zharaf Makan.

Contoh:
حيثما تجد صديقاً وفياً تجد كنزاً ثميناً

HAITSUMAA TAJID SHIDDIIQAN WAFIYYAN TAJID KANZAN TSAMIINAN = Dimana saja kamu dapati jujur lagi menepati, maka kamu dapati simpanan yg berharga.
وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَه

WA HAITSUMAA KUNTUM FAWALLUU WUJUUHAKUM SYATHRAH = Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. Albaqarah 144)

I’rob :

HAITSUMAA = Isim Syarat Amil Jazem, Mabni Dhammah mahal Nashob (dinashobkan menjadi khobar muqaddam dari KUNTUM apabila diberlakukan sebagai Fi’il Naqish, atau dinashobkan sebagai Zharaf Makan berta’alluq pada KUNTUM yg diberlakukan Fi’il Tamm). MAA sebagai shilah.

KUNTUM = Fi’il Madhi Naqish, Mabni Sukun Mahal Jazem sebagai Fi’il Syarat. TUM sebagai isim Kaana dan MIM tanda jamak.

FAWALLUU = Jumlah Fi’il dan Faa’il dalam posisi Mahal Jazem menjadi Jawab Syarat.

Tidak ditemukan contoh lain dalam Ayat Al=Qur’an kecuali Ayat ini.

11. ANNAA أنى

Isim Syarat & Amil Jazem, digunakan untuk menunjukkan tempat kemudian dipergunakan juga untuk makna Syarat, menepati posisi I’rob Mahal Nashab atas Zharaf Makan seperti AINAMAA & HAITSUMAA.

Contoh :
أنى ينزل ذو العلم يُكرمْ

ANNAA YANZAL DZUL-’ILMI YUKROM = dimana saja orang berilmu itu turun, ia dihormati.

Pengertian Ikhtishash dalam Kaidah Nahwu » Alfiyah Bait 620-621

الاختصاصُ

BAB IKHTISHASH
الاخـــتـــصـــاصُ كــــنـــــداءٍ دُونَ يـــــــــا ¤ كَــأَيُّــهـــا الــفــتـــى بـــإِثْــــرِ ارْجُــونِـــيَـــا

Ikhtishash itu seperti Nida’ tanpa “Yaa” (tanpa huruf nida’), contoh “Ayyuhal-Fataa” setelah bekas lafazh “Urjuuniy” (Urjuuniy ayyuhal-Fataa = mengharaplah kalian kepadaku seorang pemuda).
وقــــــــدْ يُــــــــرَى ذا دُونَ أيٍّ تِــــلْــــوَ أَلْ ¤ كمِـثـلِ نـحـنُ الـعُـرْبَ أَسْـخَــى مَـــنْ بَـــذَلْ

Terkadang dipertimbangkan untuk Isim Mukhtash yg selain “Ayyun” dengan menyandang “AL”, contoh “Nahnul-’Aroba askhaa man badzala” (Kami -orang-orang Arab- adalah paling murahnya orang yg dermawan).

–·•Ο•·–

Pengertian Ikhtishash secara bahasa adalah Isim Mashdar dari Fi’il Madhi “Ikhtashshah” (mengkhususkan), sebagaimana contoh:
اختص فلان فلاناً بأمر

IKHTASHSHA FULAANUN FULAANAN BI AMRIN = Fulan menghususi Fulan dengan sesuatu perkara

Yakni meringkas si Fulan pada penetapan suatu perkara

Pengertian Ikhtishosh menurut istilah Nahwu adalah : mengkhususkan/meringkaskan hukum pada Dhamir selain ghaib dan sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat yg menjadi makna dari Isim Dhamir tersebut.

Contoh:
نحن المسلمين خير أمة أخرجت للناس

NAHNU AL-MUSLIMIINA KHAIRU UMMATIN UKHRIJAT LINNAASI = Kami -orang-orang Muslim- adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia.
أنا طالب العلم لا تفتر رغبتي

ANA THAALIBUL-’ILMI LAA TAFTURU RUGHBATIY = Saya -penuntut ilmu- takkan reda semangatku.
نحن الموقعين على هذا نشهد بكذا وكذا

NAHNU AL-MUWAQQI’IINA ‘ALAA HAADZAA NASYTAHIDU BI KADZAA WA KADZAA = Kami -yang bertandatangan dibawah ini- bersaksi demikian dan seterusnya…

Penjelasan Definisi :

Menghususkan hukum pada dhamir = Meringkas pengertian dhamir atas suatu hukum.
Dhamir selain ghaib = Umumnya Dhamir Mutakallim, atau dhamir Mukhatab tapi jarang seperti contoh:

أنت الخطيبَ أفصح الناس قولاً

ANTA AL-KHOTIIBA AFSHAHUN-NAASI QOULAN = Kamu -penceramah- paling fasihnya orang dalam berkata.

Sesudahnya ada Isim Zhahir Ma’rifat = Yakni ma’rifat sebab idhofah atau menyandang “AL” seperti pada contoh-contoh diatas.

Tujuan dari pada penyebutan Isim Zhahir adalah untuk mengkhususi Isim Dahmir, menjelaskan serta menghilangkan kesamaran. Dan dinamakan pula Isim Zhahir Manshub ‘Alal Ikhtishosh yakni dinashobkan oleh Fi’il yg wajib terbuang misalnya takdir fi’il : AKHUSHSHU (aku menghususkan) dan semisalnya.

Contoh dalam Hadits, Nabi saw bersabda :
إنا معشر الأنبياء لا نورث

INNAA MA’SYAROL ANBIYAA’I LAA NUUROTSU = Kami -kelompok para Nabi- tidak mewariskan.
إنا آلَ محمد لا تحل لنا الصدقة

INNAA AALA MUHAMMADIN LAA TAHILLU LANAA ASH-SHADAQATU = Kami -keluarga Muhammad- tidak halal bagi kami menerima sedekah.

Contoh I’robnya :

MA’SYAROL ANBIYAA’I = Dinashabkan atas Ikhtishash oleh Fi’il yg wajib dibuang, sebagai Jumlah Mu’taridhah antara Isim INNA dan Khabarnya, atau sebagai HAAL dari dhamir NAA.

Terkadang Ikhtishosh tersebut dengan menggunakan lafazh “AYYUN” (Mudzakkar) dan “AYYATUN” (Muannats) yg wajib mabni dhommah dalam mahal nashab, dan disambung dengan “HAA” (huruf Tanbih) menjadi “AYYUHAA” dan “AYYATUHAA”. Kedua lafazh Ikhtishosh ini tetap dalam bentuknya baik untuk mufrod, mutsanna dan jamak. Ditetapkan pula setelah keduanya ada Isim yg dirofa’kan sebagai NA’ATnya.

Contoh :
إني – أيها المسلم – نظيف اليد واللسان

INNIY AYYUHAL-MUSLIMU NAZHIIFUL-YADDI WAL-LISAANI = sesungguhnya saya -sebagai seorang muslim- harus bersih tangan dan ucapan.
إنني – أيتها المسلمة – أُحسنُ الححاب

INNANIY AYYATUHAL-MUSLIMATI UHSINUL-HIJAABI – sesungguhnya saya -sebagai seorang muslimah- harus memperbagus Hijab (penutupan aurat).

Sebagaimana disebutkan bahwa tujuan asal Ikhtishash adalah sebagai Takhshish (penghususan) atau Qashr (ringkasan) yg terkadang berfungsi Fakhr (kebanggaan) sebagimana dua contoh diatas. Dan terkadang berfungsi Tawadhu’ (kerandahan diri) seperti contoh:
أنا أيها العبد محتاج إلى عفو الله

ANA AYYUHAL-’ABDU MUHTAAJUN ILAA ‘AFWILLAAHI = Saya-sebagai seorang hamba- sangat butuh akan Pengampunan Allah.

Dengan demikian penggunaan Ikhatishash itu ada dua :

1. Menggunakan “AYYUHAA” atau “AYYATUHAA”
2. Menggunakan Isim yg menyandang “AL” atau “Mudhaf”.

Disebutkan dalam Bait diatas bahwa Ikhtishosh serupa dengan Nida’ dalam keumuman penampakannya, yakni sama-sama menyertakan Isim yg kadang dimabnikan dhammah dan kadang dinashabkan, juga sama berfaidah Ikhtishosh, dan masing-masing digunakan untuk orang kedua (hadir) tidak untuk orang ketiga (ghaib).

Perbedaannya adalah Ikhtishash untuk Mutakallim juga Mukhatab, sedangkan Nida’ husus Mukhatab saja. Ikhtishash tidak menggunakan huruf Nida’ baik secara lafazh dan taqdir. Ikhtishosh tidak bisa dijadikan shodar kalam (awalan kalimat) sedangkan Nida’ bisa. Ikhtishash banyak menggunakan “AL” pada isim mukhtashnya sedangkan Nida’ tidak boleh menggunakan “AL” pada Munadanya kecuali dalam pengecualian sebagaimana telah disebut pada bab Nida’

Pengertian Isim Tafdhil dan Syarat-syaratnya » Alfiyah Bait 496-497

أَفْعَلُ التَّفْضِيلِ

BAB AF’ALU AT-TAFDHIL
صُغْ مِنْ مَصُوغ مِنْهُ للتَّعَجُّبِ ¤ أَفْعَلَ للتَّفْضِيلِ وَأْبَ اللَّذْ أبِي

Bentuklah lafazh yang boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub kepada bentuk Isim Tafdhil “AF’ALA”. dan tinggalkan lafazh yang tidak diperbolehkan.
ومَا بِهِ إلى تَعَجُّبٍ وُصِل ¤ لِمَانِع بِهِ إلى التَّفْضِيلِ صِل

Suatu yang disambung sebagai perantara pembentukan ta’ajjub karena ada hal yang tidak memperbolehkannya, maka sambungkan juga kepada pembentukan Isim Tafdhil (dengan alasan yang sama)

–·•Ο•·–

Wazan Af’alut-Tafdhil “AF’ALA” adalah kalimah Isim karena bisa dimasuki oleh tanda-tanda kalimah Isim. Termasuk Isim yang tidak Munsharif karena menetapi dua illah: Washfiyah dan Wazan Fi’il. Isim Tafdhil tersebut tidak akan munsharif kecuali Hamzahnya dibuang dalam banyak penggunaannya yaitu lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN”. Terkadang ada juga kalimah lain dari Isim Tafdhil yang berlaku pembuangan Hamzah seperti keduanya, yaitu lafazh “AHABBU” menjadi “HABBUN” seperti dalam syahid syair bahar basith berikut:
وزادني كلفا بالحب أن منعت # وحب شيء إلى الإنسان ما منعا

WA ZAADANIY KALAFAN BIL-HUBBI AN MANA’AT # WA HABBU SYAI’IN ILAL-INSAANI MAA MUNI’AA

Penolakanmu menambah cintaku semakin menyala-nyala # suatu yang lebih dicintai oleh manusia adalah suatu yang ditolak.

Terkadang juga lafazh “KHAIRUN” dan “SYARRUN” dipergunakan bentuk aslinya yaitu “AKHYARU” dan “ASYARRU”.

Contoh sebagian Qiro’ah membaca Ayat berikut :
مَنِ الْكَذَّابُ الْأَشَرُّ

MANIL-KADZDZAABUL-ASYARRU = siapakah yang sebenarnya amat pendusta lagi lebih buruk. (QS. Al-Qamar:26)

dan contoh syahid syair dalam penggalan syair bahar Rojaz berikut:
بلال خيرُ الناسِ وابن الأخير

BILAALU KHAIRUN-NAASI WABNUL-AKHYARI = Bilal manusia terbaik dan putra orang terbaik.

Af’al At-Tafdhil yaitu Isim Musytaq yang berwazan AF’ALA. Termasuk bagian dari Isim yang beramal seperti pengamalan Fi’ilnya. Umumnya menunjukkan kepada dua hal yang mempunyai hubungan sifat yang mana salah satunya diunggulkan dari yang lainnya.

Contoh:
العلم أفضل من المال

AL-’ILMU AFDHALU MINAL-MAALI = Ilmu lebih utama dari harta.

Lafazh AL-’ILMU = yang diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL
Lafazh AL-MAALI = yang tidak diunggulkan disebut AL-MUFADHDHAL ‘ALAIH atau disebut AL-MAFDHUL.
Lafazh AFDHALU = Wazan AF’ALA yang menunjukkan Tafdhil atau Isim Tafdhil, biasanya diperuntukkan untuk sifat Tafdhil yang keberadaannya selalu tetap dan eksis yakni tidak sekali-kali.

Af’al At-Tafdhil musytaq dari asal Mashdar Fi’il, dibuat dengan bentuk wazan AF’ALA untuk menghasilkan makna tafdhil/melebihkan. Disyaratkan lafazh yang boleh dibuat Isim Tafdhil disini adalah berasal dari Fi’il-Fi’il yang secara langsung boleh dibentuk Fi’il Ta’ajjub, yakni Fiil-Fi’il yang mencukupi syarat dibuat Ta’ajjub yang telah diterangkan pada Bab Ta’ajjub, yaitu:

1. Tsulatsi
2. Mutasharrif
3. Dapat menerima hal perlebihan
4. Tamm
5. Mutsbat
6. Tidak punya bentuk Sifat dengan wazan AF’ALA
7. Mabni Ma’lum

Sebagaimana Fi’il yang tidak boleh dijadikan shighat Fi’il Ta’ajjub karena tidak mencukupi syarat, maka tidak boleh juga untuk dijadikan shighat Isim Tafdhil. Dan Fi’il yang tidak mencukupi syarat tersebut boleh dijadikan sebagai penunjukan Tafdhil dengan sebab persambungan lafazh perantara yaitu lafazh ASYADDU, contoh:
بَحْثُ خالد أشدُّ اختصاراً من بحث محمد

BAHTSU KHAALIDIN ASYADDU IKHTISHAARAN MIN BAHTSI MUHAMMADIN = Pembahasan Khalid lebih ringkas dari pembahasan Muhammad.

Lafazh IKHTISHAARAN = Isim Manshub dii’rob sebagai Tamyiz jatuh sesudah lafazh perantara untuk makna ta’ajjub yaitu lafazh ASYADDU.

Bilangan/Hitungan dalam Bahasa Arab (‘Adad dan Ma’dud/Tamyiz-nya, Mudzakkar dan Mu’annats-nya, Mufrad dan Jamak-nya) » Alfiyah Bait 726-723-724

–·•Ο•·–

العدد

Bab ‘Adad (Bilangan/Hitungan)
ثَلَاثَةً بِالتَّاءِ قُلْ لِلعشَرَهْ ¤ فِي عَدِّ مَا آحَادُهُ مُذَكّرَهْ

Ucapkan angka Tsalatsatun (tiga) sampai ‘Asyarotun (sepuluh) dg menggunakan Ta’ didalam menghitung sesuatu yg mufrodnya Mudzakkar.
في الضِّدِّ جَرِّدْ وَالْمُمَيِّزَ اجْرُرِ ¤ جَمْعاً بِلَفْظِ قِلَّةٍ فِي الأكْثَرِ

Sebaliknya buanglah Ta’nya (pada mufrod ma’dud muannats). Jarkanlah! Lafazh Mumayyiz/Ma’dud yg jamak qillah pada kebanyakannya (daripada yg jamak katsrohnya).
وَمِائَةً وَالأَلْفَ لِلْفَرْدِ أضِفْ ¤ وَمِائَةٌ بِالجَمْعِ نَزْراً قَدْ رُدِفْ

Terhadap angka Mi’atun (seratus) dan Alfun (seribu) mudhafkan pada Isim Mufrod. Dan angka Mi’atun (seratus) jarang diikuti oleh Jamak (jarang dimudhafkan pada jamak).

–·•Ο•·–

Sebelumnya perlu diketahui, bahwa Isim Adad (kata bilangan/hitungan) menurut istilah Ulama’ Nahwu terbagi menjadi 4 bagian.

1. “Adad Mufrad”
Adalah Isim Adad yg kosong dari Tarkib dan ‘Athaf. Yaitu bilangan dari Wahidun (satu) sampai ‘Asyarotun (sepuluh), Bidh’un (sejumlah antara 3-9), Mi’atun (seratus), dan Alfun (seribu).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mudhaf” karena dapat dimudhafkan pada Tamyiznya/Ma’dudnya, yang selain wahidun (satu) dan Itsnani (dua).

2. “Adad Murakkab”
Adalah Isim Adad susunan dua bilangan menjadi satu dengan susunan Tarkib Mazji. Yaitu bilangan dari Ahada ‘Asyaro (sebelas) sampai Tis’ata ‘Asyaro (Sembilan belas).

3. “Adad ‘Aqd”
Adalah Isim Adad puluhan/kelipatan sepuluh. Yaitu bilangan dari ‘Isyruuna (dua puluh) sampai Tis’uuna (sembilan puluh).
Sebagian Nuhat menyebutnya “Adad Mufrod” karena tidak Mudhaf juga tidak Murokkab.

4. “Adad Ma’thuf”
Adalah Isim Adad susunan Athaf. Yaitu bilangan yg ada diantara dua Adad Aqd (angka yg ada diantara 20>…<30, 30>…<40, dst.). Contoh Wahidun wa ‘Isyruuna (dua puluh satu), Itsnaani wa Isyruuna (dua puluh dua), dst. Hingga Tis’atun wa Tis’uuna (sebilan puluh Sembilan). Insyaallah 4 bagian diatas akan diterangkan menurut penerangan Kitab Alfiyah pada tiga bahasan sebagai berikut: Hukum Mudzakkar&Muannatsnya Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya Hukum I’robnya I. ‘ADAD MUFROD A. WAHIDUN (SATU) dan ITSNAANI (DUA) I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : harus mencocoki pada Ma’dudnya. Contoh: في القرية مسجد واحد FIL-QORYATI MASJIDUN WAAHIDUN = Di desa itu hanya ada satu masjid. في القرية مدرسة واحدة FIL-QORYATI MADROSATUN WAAHIDATUN = Di desa itu hanya ada satu Madrasah. اشتريت كتابين اثنين ISYTAROITU KITAABAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua kitab. اشتريت كراستين اثنتين ISYTAROINI RURROOSATAINI ITSNAINI = Aku telah membeli dua buku tulis. II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : harus disebutkan setelah ma’dudnya seperti contoh-contoh diatas. Dan tidak boleh menyebutkan ma’dud sebelumnya, maka tidak boleh mengatakan : في القرية واحدُ مسجدٍ FIL-QORYATI WAAHIDU MASJIDIN. اشتريت اثني كتابين ISYTAROITU ITSNAIY KITAABAINI. Karena cukup penyebutan ma’dud secara langsung sudah mencukupi jumlah yg dimaksud (mufrad/mutsanna = satu/dua). Maka tidak perlu untuk menyebut ‘adad pada sebelum ma’dudnya. III. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam. Sedangkan I’rob ma’dudnya mengikuti irob ‘adad sebelumnya yakni sebagai Tabi’ Taukid. B. TSALATSATUN (TIGA) sampai ‘ASYAROTUN (SEPULUH) dan BIDH’UN/BIDH’ATUN (sejumlah 3-9) I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : kebalikan dari ma’dudnya, yakni dimudzakkarkan apabila ma’dudnya mu’annats, dan dimuannatskan apabila ma’dudnya mudzakkar,. Contoh : عندي سبعةُ رجال INDIY SAB’ATU RIJAALIN = disisiku tujuh pria. عندي ثلاثُ نسوةٍ INDIY TSALAATSU NISWATIN = disisiku tiga wanita. صافحت بضعة رجال SHOOFAHTU BIDH’ATA RIJAALIN = aku berjabat tangan dengan beberapa pria. نصحت بضع نساء NASHOHTU BIDH’A NISAA’IN = aku menasehati beberapa wanita. Contoh dalam Ayat Al-Qur’an : سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَالٍ وَثَمَانِيَةَ أَيَّامٍ حُسُومًا SAKHKHOROHAA ‘ALAIHIM SAB’A LAYAALIN WA TSAMAANIYATA AYYAAMIN HUSUUMAN = yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus (QS Al-Haaqqah : 7) >> lafazh LAYAALIN = Ma’dud mu’annats karena mufrodnya LAILATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar SAB’A.
>> lafazh AYYAAMIN = Ma’dud mudzakkar karena mufrodnya YAUMIN, maka menggunakan ‘adad muannats TSAMAANIYATA.
فَشَهَادَةُ أَحَدِهِمْ أَرْبَعُ شَهَادَاتٍ

FA SYAHAADATU AHADIHIM ARBA’U SYAHAADAATIN = maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah (QS. An-Nuur : 6)
ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ

TSUMMA LAM YA’TUU BI ARBA’ATI SYUHADAA’A = dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi (QS. An-Nuur : 4)

>> lafazh SYAHADAATIN = ma’dud mu’annats karena mufrodnya SAHAADATIN, maka menggunakan ‘adad mudzakkar ARBA’U.
>> lafazh SYUHADAA’A = ma’dud mudzakkar karena mufrodnya SYAAHIDUN/SYAHIIDUN, maka menggunakan ‘adad mu’annats ARBA’ATI.

Dengan demikian, yang dipandang mudzakkar dan muannatsnya dalam hal ini bukan pada bentuk lafazh jamaknya, akan tetapi yg dipandang adalah bentuk isim mufrodnya. contohnya lagi :
جاء خمسة فتية

JAA’A KHOMSATU FITYATIN = lima orang pemuda telah datang.

>> Lafazh “FITYATIN” mempunyai bentuk mufrod “FATAA” adalah ma’dud mudzakkar, makanya menggunakan ‘adad mu’annats (KHOMSATU). Tidaklah memandang bentuk lafazh jamaknya yg mu’annats (FITYATIN).

Apabila terdapat dua ma’dud dalam satu ‘adad. Yang satu mudzakkar dan yg lain muannats, maka yg dipandang muannats dan mudzakkarnya adalah pada ma’dud yg disebut pertama kali.

Contoh:
حضر سبعة رجال ونساء

HADHORO SAB’ATU RIJAALIN WA NISAA’IN = tujuh orang pria dan wanita telah hadir.
وأقبل خمس نساءٍ ورجال

AQBALA KHOMSATU NISAA’IN WA RIJAALIN = lima orang wanita dan pria telah menghadap.

Akan berbeda nanti hukum mudzakkar dan mu’annatsnya apabila adad-adad mufrad tersebut diatas dibentuk menjadi ‘Adad Murokkab atau ‘Adad Ma’thuf yg insyaAllah akan dijelaskan pada bait-bait selanjutnya.

II. Hukum I’robnya : disesuaikan menurut posisinya pada susunan kalam.

III. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya :

A. Dijadikan mudhaf ilaih dg susunan idhofah, yakni memudhofkan adad kepada ma’dud yg dibutuhkan sebagai tamyiznya, seperti pada contoh-contoh diatas. Dan terkadang tidak dimudhofkan kepada tamyiznya tapi cukup dimudhofkan langsung kepada siempunya tamyiz/ma’dud. Kerena dalam hal ini si pembicara sudah memaklumi akan jenis/bentuk ma’dud. Sehingga tidak perlu ditamyizi. Semisal contoh:
هذه خمسةُ محمد

HADZIHI KHOMSATU MUHAMMADIN = ini adalah limanya Zaid (yakni, ini lima barang punya zaid)
خذ سبعتك

KHUDZ! SAB’ATAKA = ambillah! Tujuhmu. (yakni, ambilah tujuh barangmu)

B. Ma’dudnya berbentuk jamak, yg sering digunakan adalah dalam bentuk Jamak Taksir Qillah. Dan diketahui juga bahwa maksud jamak dalam ma’dud di sini tidak harus berupa bentuk jamak dalam istilah, tapi juga bisa masuk kepada semua jenis isim yg menunjukkan jamak, seperti Isim Jamak dan Isim Jinsi Jam’i, yg dalam penggunaannya banyak menyertakan huruf jar MIN. contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
فَخُذْ أَرْبَعَةً مِنَ الطَّيْرِ

FA KHUDZ! ARBA’ATAN MINATH-THOIRI = ambillah empat ekor burung (QS. Al-Baqoroh : 260)
جاء ثلاثة من القوم

JAA’A TSALAATSATUN MINAL QOUMI = telah datang tiga kaum.
في المزرعة سبع من النخل وتسع من الشجر

FIL MAZRO’ATI SAB’UN MINAN-NAKHLI WA TIS’UN MINAS-SYAJARI = di ladang itu ada tujuh pohon kurma dan Sembilan pepohonan.

Terkadang juga langsung disusun secara idhofah. Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ

WA KAANA FIL-MADIINATI TIS’ATU ROHTHIN = Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki (QS. An-naml:48).

Yang berbeda dengan tiga hal diatas dalam hukum penggunaan ma’dudnya yakni : 1. Jamak. 2. Jamak Taksir. 3. Jamak Taksir Qillah. Adalah :

1. Menggunakan bentuk isim mufrod, apabila adad-adad tersebut diatas bertamyiz pada lafazh MI’ATUN. Contoh :
في المعهد ثلثمائة طالب وأربعمائة مقعد

FIL-MA’HADI TSALATSUMI’ATI THOOLIBIN WA ARBA’UMI’ATI MAQ’ADIN = di lembaga itu ada 300 siswa dan 400 bangku.

2. Menggunakan bentuk jamak shohih, apabila tidak terdapat dalam bentuk jamak taksirnya. Contoh:
خمس صلوات

KHOMSU SHOLAWAATIN = lima sholat.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ

ALLAHUL-LADZII KHOLAQO SAB’A SAMAAWAATIN WA MINAL-ARDHI MITSLAHUNNA = Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi (QS. Ath-Tholaaq : 12)

>> Lafazh “SAMAWAATIN” = menggunakan jamak shohih (jamak muannats salim) karena tidak mempunyai bentuk jamak lain selain itu.
ثَلَاثُ عَوْرَاتٍ لَّكُمْ

TSALAATU ‘AUROOTIN = tiga ‘aurat bagi kamu (QS. An-Nur : 58)

>> lafazh “‘AUROOTIN” = jamak shohih sebab juga tidak ada dalam bentuk jamak taksirnya.

Demikian juga menggunakan jamak shohih, apabila bentuk jamak taksirnya jarang digunakan. Semisal contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
فِي تِسْعِ آيَاتٍ

FII TIS’I AAYAATIN = termasuk sembilan buah mukjizat (QS. An-Naml : 12)

>> lafazh “AAYAATIN” = jamak shohih dari “AAYATIN” ditemukan dari bangsa arab menggunakan jamak taksirnya yaitu AAYUN tapi tidak banyak digunakan (lihat Al-Mishbahul Munir hal. 23).

Demikian juga menggunakan bentuk jamak shohih apabila digunakan bersamaan dengan jamak yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, seperti contoh:
يُوسُفُ أَيُّهَا الصِّدِّيقُ أَفْتِنَا فِي سَبْعِ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعِ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ

YUUSUFU AYYUHASH-SHIDDIIQU AFTINAA FII SAB’I BAQOROOTIN SIMAANIN YA’KULUHUNNA SAB’UN ‘IJAAFUN WA SAB’I SUNBULAATIN KHUDHRIN WA UKHORU YAABISAATIN = (Setelah pelayan itu berjumpa dengan Yusuf dia berseru): “Yusuf, hai orang yang amat dipercaya, terangkanlah kepada kami tentang tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk yang dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan (tujuh) lainnya yang kering (QS. Yusuf : 46)

>> lafazh SAB’I “SUNBULAATIN” = menggunakan jamak shohih karena berdampingan dengan lafazh sebelumnya yaitu SAB’I “BAQOROOTIN” yg tidak diketahui bentuk jamak taksirnya.

Sedangkan apabila tidak berdampingan dengan jamak shohih yg tidak ada bentuk jamak taksirnya, maka menggunakan bentuk jamak taksirnya yaitu “SANAABILA”, contoh dalam Ayat :
مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ

MATSALUL-LADZIINA YANFIQUUNA AMWAALAHUM FII SABIILILLAAHI KAMATSALI HUBBATIN ANBATAT SAB’A SANAABILA FII KULLI SUNBULATIN MA’ATU HABBAH. = Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. (QS. Al-Baqoro : 261).

3. Tetap menggunakan bentuk Jamak Taksir Katsroh sekalipun ada dalam bentuk Jamak Taksi Qillahnya, contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ

WAL-MUTHOLLAQOOTU YATAROBBASHNA BI ANFUSIHINNA TSALAATSATA QURUU’IN = Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru’ (QS. Al-Baqoroh : 228)

>> ‘Adad TSALAATSATA dimudhofkan kepada ma’dudnya lafazh “QURUU’IN” yg berupa Jamak Taksir Katsroh, beserta ia mempunyai bentuk Jamak Taksir Qillah yaitu “AQROO’IN”.

C. MI’ATUN (SERATUS) dan ALFUN (SERIBU)

I. Hukum Mudzakkar & Muannatsnya : Tetap dalam bentuknya baik ma’dudnya Mudzakkar atau Mu’annats.

II. Hukum Tamyiznya/Ma’dudnya : Pada umumnya harus berupa Isim Mufrod yg dijarkan menjadi mudhaf ilaih.

Contoh :
قلَّ من يعيش مائة سنةٍ

QOLLA MA YA’IISYU MI’ATA SANATIN = Jarang orang yg hidup seratus tahun.

Contoh dalam Ayat Al-Qur’an :
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ

AZZAANIYATU WAZ-ZAANIY FAJLIDUU KULLA WAAHIDIN MINHUMAA M’ATA JALDATIN = Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera (QS. An Nuur : 2)
يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ

YAWADDU AHADUHUM LAW YU’AMMARU ALFA SANATIN = Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun (QS. Al-Baqarah : 96)

Terkadang menggunakan ma’dud/tamyiz bentuk jamak majrur dari ‘adad MI’ATUN, contoh dalam Ayat AL-Qur’an :
وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِائَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

WA LABITSUU FIY KAHFIHIM TSALAATSA MI’ATIN SINIINA WAZDAADUU TIS’AN = Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-Kahfi 25).

>> karena dalam ayat ini oleh bacaan salah satu qiro’ah sab’ah (Hamzah dan Al-Kasa’iy) memudhofkan lafazh MI’ATIN pada lafazh SINIINA menjadi “MI’ATI SINIINA”.

Bentuk Wazan Mashdar » Alfiyah Bait 440-447

–·•Ο•·–

أبْنِيَةُ المَصَادِرِ

BENTUK-BENTUK WAZAN MASHDAR
فَعْلٌ قِيَاسُ مَصْدَرِ المُعَدَّى ¤ مِنْ ذي ثَلاثَةٍ كَرَدَّ رَدَّا

Wazan FA’LUN adalah qias mashdar dari Fi’il Muta’addi tiga huruf, seperti “RODDA” bentuk mashdarnya adalah “RODDAN”
وَفَعِلَ اللازِمُ بَابُهُ فَعَلْ ¤ كَفَرَحٍ وَكَجَوىً وَكَشَلَلْ

Wazan fi’il FA’ILA (kasrah ‘ain fi’ilnya) yang Lazim, bab mashdarnya berwazan FA’ALUN, seperti “FAROHUN”, “JAWAN”, dan “SYALALUN”.
وَفَعَلَ اللازمُ مِثْلَ قَعَدَا ¤ لَهُ فُعُولٌ بِاطِّرادٍ كَغَدَا

Wazan fi’il FA’ALA (fathah ain fi’ilnya) yang Lazim semisal QO’ADA, mashdarnya berwazan FU’UULUN secara permanen, seperti “GHODAA” (mashdarnya adalah “GHUDUWWUN”.
مَا لَمْ يَكُنْ مُسْتَوْجِباً فِعَالا ¤ أوْ فَعَلَاناً فَادْرِ أوْ فُعَالا

(demikian itu permanen berwazan Fu’uulun) selama tidak mewajibkan terhadap wazan FI’AALUN, FA’ALAANUN atau FU’AALUN, maka dari itu ketahuilah!.
فَأوَّلٌ لِذِيْ امْتِنَاعٍ كَأبَى ¤ وَالثَّانِ لِلَّذِيْ اقْتَضَى تَقَلُّبَا

Wazan yang pertama (FI’AALUN) bagi mashdar yang menunjukkan makna menolak, Seperti contoh: “ABAA” (mashdarnya IBAA’UN). Dan wazan yang kedua (FA’ALAANUN) untuk mashdar yang menunjukkan makna Taqollub/gerakan berubah-rubah/berguncang (seperti contoh: THOWAFAANAN).
لِلدَّا فُعَالٌ أوْ لِصَوْتٍ وَشَمَلْ ¤ سَيْراً وَصَوْتاً الْفَعِيلُ كَصَهَلْ

Wazan FU’AALUN untuk mashdar yg menunjukkan makna penyakit dan makna suara. Dan Wazan FA’IILUN untuk mashdar yang mencakup makna perjalanan juga makna suara, seperti contoh: SHOHIILUN = meringkik
فُعُولَةٌ فَعَالَةٌ لِفَعُلَا ¤ كَسَهُلَ الأَمْرُ وَزَيْدٌ جَزُلا

Wazan mashdar FU’UULATUN dan FA’AALATUN untuk Fi’il Tsulatsi wazan FA’ULA (dhommah ‘ain fi’ilnya) contoh: SAHULAL-AMRU dan ZAIDUN JAZULA (mashdarnya adalah: SUHUULATUN dan JAZAALATUN.
وَمَا أتَى مُخَالِفاً لِمَا مَضَى ¤ فَبَابُهُ النَّقْلُ كَسُخْطٍ وَرِضَا

Suatu mashdar yang datang dengan wazan berbeda dari apa yang telah disebut diatas, maka bab mashdarnya adalah Nuqil/Sama’i. seperti contoh: SHUKHTUN dan RIDHAN.

–·•Ο•·–

Telah disebutkan bahwa Mashdar adalah Isim yang menunjukkan Hadts (kejadian) yang terpisah dari penunjukan Zaman (waktu). Mashdar tsb baik berupa Mashdar dari Fi’il tiga huruf (tsulatsi mujarrad) atau dari Fi’il lebih tiga huruf (tsulatsi mazid atau ruba’i mujarrad dan mazid).

Mashdar dari fi’il tiga huruf sangat banyak macamnya. tidak dapat dipastikan kecuali sama’i atau merujuk pada mu’jam bahasa arab atau kamus. Adapun penjelasan dari Ulama Nahwu mengenai wazan mashdar tsulatsi ini, mengacu pada kaidah kebiasaan yang umum dipergunakan, kaidah ini dapat dipergunakan pada lafazh-lafazh masdar yang belum dipergunakan atau belum didengar (sama’i) dari kalam arab. sekalipun orang dapat mempergunakan kaidah dari Ulama Nahwu ini, namun tidak menafikan untuk melihat dulu dalam kitab mu’jam atau kamus sebelum menetapkan kebenaran bentuk mashdar tsulatsi tersebut.

Bentuk Fi’il dari Tsulatsi sudah pasti jika huruf yang pertama berharkat Fathah, adapun huruf yang kedua terkadang berharkat Fathah, atau Dhommah, atau Kasrah. dengan demikian wazan Fi’il Tsulatsi tersebut ada tiga (FA’ALA, FA’ILA, FA’ULA), sedangkan wazan Mashdarnya sebagai berikut:

1. Fi’il wazan FA’ALA (Fathah ‘Ain Fi’il) :

A. MUTA’ADDI

Mashdarnya berwazan FA’LUN :
أكل أكلاً, فتح فتحاً, أخذ أخذاً

AKALA – AKLAN = Makan
FATAHA – FATHAN = Membuka
AKHODZA – AKHDZAN = Mengambil

B. LAZIM

Mashdarnya berwazan FU’UULUN, apabila Fi’il Shohih :
قعد قعوداً, جلس جلوساً, سجد سجوداً

QO’ADA – QU’UUDAN = Duduk
JALASA – JULUUSAN = Duduk
SAJADA – SUJUUDAN = Sujud

Mashdarnya berwazan FA’LUN atau FI’AALUN, apabila Fi’il Mu’tal ‘Ain :
نام نوماً, صام صوماً

NAAMA – NAUMAN = Tidur
SHOOMA – SHOUMAN = Puasa
قام قياماً, صام صياماً

QOOMA – QIYAAMAN = Berdiri
SHOOMA – SHIYAAMAN = Puasa

Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti menolak :
أبى إباءً, نفر نفاراً، وشرد شراداً

ABAA – IBAA’AN = Menolak
NAFARO – NIFAARON = Kabur/Melarikan diri
SYARODA – SYIROODAN = Kabur/Melarikan diri

Mashdarnya berwazan FI’AALUN, apabila menunjukkan arti Taqollub/gerakan berubah-rubah atau berguncang :
طاف طوفاناً. وخفق خفقاناً. غلى غلياناً

THOOFA – THOWAFAANAN = Towaf/berkeliling
KHOFAQO – KHOFAQOONAN = Menggelepar/berdebar
GHOLAA – GHOLAYAANAN = Menggelegak/mendidih/bergolak

Mashdarnya berwazan FU’AALUN, apabila menunjukkan arti sakit/penyakit :
سَعَل سُعالاً. رَعَفَ رُعافاً

SA’ALA – SU’AALAN = Batuk
RO’AFA – RUFAA’AN = Mimisan

Mashdarnya berwazan FU’AALUN atau FA’IILUN apabila menunjukkan arti suara :
صرخ صراخاً. بكى بكاءً. نعب نعيباً ونُعاباً

SHOROHA – SHUROOHAN = Berteriak
BAKAA – BUKAA’AN = Menangis
NA’ABA – NA’IIBAN/NU’AABAN = Menggaok (Burung gagak)

Mashdarnya berwazan FA’IILUN apabila menunjukkan arti perjalanan :
رحل رحيلاً. ذَمل ذميلاً

ROHALA – ROHIILAN = Berangkat/pindah
DHAMALA – DZAMIILAN = Berjalan pelan-pelan.

2. Fi’il wazan FA’ILA (Kasroh ‘Ain Fi’il) :

A. MUTA’ADDI

Mashdarnya berwazan FA’LUN :
فهم فهماً. حمد حمداً

FAHIMA – FAHMAN = Memahami
HAMIDA – HAMDAN = Memuji
Mashdarnya berwazan FI’AALATUN jika menunjukkan pembuatan :
صاغ صياغة, خاط خياطة

SHOOGHO – SHIYAAGHOTAN = membentuk
KHOOTHO – KHIYAATHOTAN = menjahit

B. LAZIM

Mashdarnya berwazan FA’ALUN :
فرح فرحاً, أشر أشراً, جَوِيَ جوىً

FARIHA – FAROHAN = gembira
ASYIRO – ASYARON = pongah/sombong
JAWIYA – JAWAN = berduka

Mashdarnya berwazan FU’LATUN jika menunjukkan arti warna :
سَمِر سُمْرة, خَضِر خُضْرة, شَهِب شُهْبَة

SAMIRO – SUMROTUN = coklat
KHODIRO – KHUDHROTUN = hijau
SYAHIBA – SHUBHATUN = kelabu

3. Fi’il wazan FA’ULA (Dhommah ‘Ain Fi’il) :

HANYA FI’IL LAZIM

Mashdarnya berwazan FU’UULATUN atau FA’AALATUN :
صَعُب صعوبة. سهل سهولة

SHO’UBA – SHU’UUBATAN = Sukar
SAHULA – SUHUULATAN = Mudah
فَصُح فَصاحة. وبَلُغَ بلاغة

FASHUHA – FASHOOHATAN = Fasih
BALUGHO – BALAAGHOTAN = Sampai

Wazan-wazan Mashdar Tsulatsi yang berbeda dengan qias wazan yang telah disebut diatas, maka dikembalikan secara Sama’i tanpa qias.
contoh:
سَخِط سُخْطاً

SAKHITHO – SHUKHTHON = marah
menurut qias adalah SHAKHOTHON = marah
جحد جحوداً

JAHADA – JUHUUDAN = ingkar
menurut qias adalah JAHDAN
العدد

Bab ‘Adad (Bilangan/Hitungan)
ثَلَاثَةً بِالتَّاءِ قُلْ لِلعشَرَهْ ¤ فِي عَدِّ مَا آحَادُهُ مُذَكّرَهْ

Ucapkan angka Tsalatsatun (tiga) sampai ‘Asyarotun (sepuluh) dg menggunakan Ta’ didalam menghitung sesuatu yg mufrodnya Mudzakkar.
في الضِّدِّ جَرِّدْ وَالْمُمَيِّزَ اجْرُرِ ¤ جَمْعاً بِلَفْظِ قِلَّةٍ فِي الأكْثَرِ

Sebaliknya buanglah Ta’nya (pada mufrod ma’dud muannats). Jarkanlah! Lafazh Mumayyiz/Ma’dud yg jamak qillah pada kebanyakannya (daripada yg jamak katsrohnya).
وَمِائَةً وَالأَلْفَ لِلْفَرْدِ أضِفْ ¤ وَمِائَةٌ بِالجَمْعِ نَزْراً قَدْ رُدِفْ

Terhadap angka Mi’atun (seratus) dan Alfun (seribu) mudhafkan pada Isim Mufrod. Dan angka Mi’atun (seratus) jarang diikuti oleh Jamak (jarang dimudhafkan pada jamak).

ALFIAH IBNU MALIK BET 1-11

Muqoddimah المقدمة MUQADDIMAH قَـالَ مُحَمَّد هُوَ ابنُ مَـالِكِ ¤ أَحْمَدُ رَبِّي اللَّهَ خَيْرَ مَالِكِ Muhammad Ibnu Malik berkata: Aku memuji kepada Allah Tuhanku sebaik-baiknya Dzat Yang Maha Memiliki. مُصَلِّيَاً عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى ¤ وَآلِـــهِ الْمُسْــتَكْمِلِينَ الْشَّــرَفَا Dengan bersholawat atas Nabi terpilih dan atas keluarganya yang mencapai derajat kemulyaan. وَأسْتَـعِيْنُ اللهَ فِيْ ألْفِــيَّهْ ¤ مَقَاصِدُ الْنَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ Juga aku memohon kepada Allah untuk kitab Alfiyah, yang dengannya dapat mencakup seluruh materi Ilmu Nahwu.. تُقَرِّبُ الأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ ¤ وَتَبْسُـطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ Mendekatkan pengertian yang jauh dengan lafadz yang ringkas serta dapat menjabar perihal detail dengan janji yang cepat. وَتَقْتَضِي رِضَاً بِغَيْرِ سُخْطِ ¤ فَـائِقَةً أَلْفِــــيَّةَ ابْنِ مُعْطِي Kitab ini mudah menuntut kerelaan tanpa kemarahan, melebihi kitab Alfiyahnya Ibnu Mu’thi.. وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلاً ¤ مُسْـتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلاَ Beliau lebih memperoleh keutamaan karena lebih awal. Beliau behak atas sanjunganku yang indah.. وَاللَّهُ يَقْضِي بِهِبَـاتٍ وَافِرَهْ ¤ لِي وَلَهُ فِي دَرَجَاتِ الآخِرَهْ Semoga Allah menetapkan karunianya yang luas untukku dan untuk beliau pada derajat-derajat tinggi akhirat.. الْكَلاَمُ وَمَا يَتَألَّفُ مِنْهُ Bab Kalam dan Sesuatu yang Kalam tersusun darinya كَلاَمُــنَا لَفْــظٌ مُفِيْدٌ كَاسْــتَقِمْ ¤ وَاسْمٌ وَفِعْلٌ ثُمَّ حَرْفٌ الْكَلِمْ Kalam (menurut) kami (Ulama Nahwu) adalah lafadz yang memberi pengertian. Seperti lafadz “Istaqim!”. Isim, Fi’il dan Huruf adalah (tiga personil) dinamakan Kalim وَاحِدُهُ كَلِمَةٌ وَالْقَوْلُ عَمْ ¤ وَكَلْمَةٌ بِهَا كَلاَمٌ قَدْ يُؤمْ Tiap satu dari (personil Kalim) dinamakan Kalimat. Adapun Qaul adalah umum. Dan dengan menyebut Kalimat terkadang dimaksudkan adalah Kalam Kitab Nadzom Kitab Nadzom Alfiyyah KLIK DOWNLOAD KALAM Definisi Kalam menurut Istilah Ulama Nahwu adalah Sebutan untuk Lafadz yang memberi pengertian satu faedah yaitu baiknya diam. Sehingga yang berkata dan yang mendengar mengerti tanpa timbul keiskalan. Lafadz adalah nama jenis yang mencakup Kalam, Kalim, atau Kalimat, termasuk yang Muhmal (tidak biasa dipakai) ataupun yang Musta’mal (biasa dipakai) contoh perkataan Muhmal: دَيْزٌ Daizun, tidak mempunyai arti. Contoh perkataan Musta’mal عَمْرٌو ‘Amrun, ‘Amr nama orang. Mufid (yang memberi pengertian) untuk mengeluarkan Lafdz yang Muhmal, atau hanya satu Kalimat, atau Kalim yang tersusun dari tiga kalimat atau lebih tapi tidak memberi pengertian faedah baiknya diam, seperti Lafadz: اِنْ قَامَ زَيْدٌ Apabila Zaid berdiri. Susunan Kalam pada dasarnya Cuma ada dua: 1. ISIM + ISIM, 2. FI’IL + ISIM. Contoh pertama: زيد قائم Zaid orang yg berdiri. Contoh kedua قام زيد Zaid telah berdiri. Sebagaimana contoh Kalam yang disebutkan oleh Mushannif pada baris baitnya, yaitu lafadz استقم ISTAQIM! Artinya: berdirilah! Pada lafadz ini terdiri dari Fiil ‘Amar dan Isim Fa’il berupa Dhomir Mustatir (kata ganti yang disimpan) FI’IL + ISIM takdirnya adalah استقم أنت ISTAQIM ANTA, artinya: berdirilah kamu! maka contoh ini memenuhi criteria untuk disebut Kalam yaitu lafadz yang memberi pengertian suatu faidah. Sepertinya Mushannif mendefinisikan kalam pada bait syairnya sebagai berikut: Kalam adalah Lafadz yang memberi pengertian suatu faidah seperti faidahnya lafadz استقم. Bab Kalam Bab Kalam Ibnu Aqil KALIM Adalah nama jenis yang setiap satu bagiannya disebut kalimat, yaitu: Isim, Fi’il dan Huruf. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri tanpa terikat waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT ISIM. Jika Kalimat itu menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri dengan menyertai waktu, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT FIIL. Jika Kalimat itu tidak menunjukkan suatu arti pada dirinya sendiri, melainkan kepada yang lainnya, maka Kalimat tsb dinamakan KALIMAT HURUF. Walhasil Kalim dalam Ilmu Nahwu adalah susunan dari tiga kalimat tsb atau lebih, baik berfaidah ataupun tidak misal: إن قام زيد jika Zaid telah berdiri. KALIMAT Adalah lafadz yang mempunyai satu makna tunggal yang biasa dipakai. Keluar dari definisi Kalimat adalah lafadz yang tidak biasa dipakai semisal دَيْزٌ Daizun. Juga keluar dari definisi Kalimat yaitu lafadz yang biasa dipakai tapi tidak menunjukkan satu makna, semisal Kalam. QAUL Adalah mengumumi semua, maksudnya termasuk Qaul adalah Kalam, Kalim juga Kalimat. Ada sebagian ulama berpendapat bahwa asal mula pemakaian Qaul untuk Lafadz yang mufrad (tunggal). Selanjutnya Mushannif menerangkan bahwa menyebut Kalimat terkadang yang dimaksudkan adalah kalam. Seperti lafadz لا إله إلا الله Orang Arab menyebut Kalimat Ikhlash atau Kalimat Tahlil. Sebutan Kalam dan Kalim, terkadang keduanya singkron saling mencocoki satu sama lain, dan terkadang tidak. Contoh yang mencocoki keduanya: قد قام زيد Zaid benar-benar telah berdiri. contoh tersebut dinamakan Kalam karena memberi pengertian, mempunyai faidah baiknya diam. Dan juga dinamakan Kalim karena tersusun dari ketiga personil Kalimat. Contoh hanya disebut Kalim: إن قام زيد Apabila Zaid berdiri. Dan contoh hanya disebut Kalam: زيد قائم Zaid orang yang berdiri. Referensi: Kitab Syarah Ibnu Aqil Bait 11. Tanda Kalimat Fi’il: Ta’ Fail, Ta’ Ta’nits Sukun, Ya’ Fail, Nun Taukid. بِتَا فَعَلْتَ وَأَتَتْ وَيَا افْعَلِي ¤ وَنُوْنِ أَقْبِلَنَّ فِعْـــلٌ يَنْجَلِي Dengan tanda Ta’ pada lafadz Fa’alta dan lafadz Atat, dan Ya’ pada lafadz If’ali, dan Nun pada Lafadz Aqbilanna, Kalimah Fi’il menjadi jelas. Matan Nazham Alfiyyah Bait ini menjelaskan bahwa Kalimat Fi’il dibedakan dari Kalimah Isim dan Kalimah Huruf, dengan beberapa tanda-tanda pengenalnya sebagaimana disebutkan dalam bait syair, yaitu: Ta’ Fail Ta’ dalam contoh فَعَلْتَ dimaksudkan adalah Ta’ Fail mancakup: Ta’ Fail untuk Mutakallim, Ta’ berharkat Dhommah contoh: ضَرَبْتُ زَيْداً Aku memukul Zaid. Ta’ Fail untuk Mukhatab, Ta’ berharkat Fathah contoh: ضَرَبْتَ زَيْداً Engkau (seorang laki-laki) memukul Zaid. Ta’ Fail untuk Mukhatabah, Ta’ berharkat Kasroh contoh: ضَرَبْتِ زَيْداً Engkau (seorang perempuan ) memukul Zaid. Ta’ Ta’nits Sukun Ta’ dalam contoh lafadz اَتَتْ Maksudnya adalah Ta’ Ta’nits yang Sukun. Contoh: ضَرَبَتْ زَيْداً Dia (seorang perempuan) memukul Zaid. Menyebut Ta’ Ta’nits Sukun untuk membedakan dengan Ta’ Ta’nits yang tidak sukun yang bisa masuk kepada Kalimat Isim dan Kalimat Hururf Bisa masuk pada Kalimat Isim contoh: هِيَ مُسْلِمَةٌ Dia seorang Muslimah. Bisa masuk kepada kalimat Huruf contoh: وَلاَتَ حِينَ مَنَاصٍ Ketika itu tidak ada tempat pelarian. Ya’ Fa’il Ya’ dalam contoh lafadz افْعَلِيْ dimaksudkan adalah Ya’ Fail mancakup: Ya’ Fa’il pada Fi’il Amar. Contoh: اضْرِبِيْ Pukullah wahai seorang perempuan! Ya’ Fa’il pada Fi’il Mudhori’, contoh: تَضْرِبِيْنَ زَيْداً Engkau (seorang perempuan) akan memukul Zaid. Menyebut Ya’ If’aliy atau Ya’ Fail, dan tidak menyebut Ya’ Dhomir dikarenakan termasuk Ya’ Dhomir Mutakallim yang tidak Khusus masuk kepada Fi’il tapi bisa masuk kepada semua Kalimat contoh: سَأَلَنِيْ اِبْنِيْ عَنِّيْ Anakku menanyaiku tentang aku. Nun Taukid Nun dalam contoh lafadz أقْبِلَنَّ dimaksudkan adalah Nun Taukid mancakup: Nun Taukid Khofifah tanpa Tansydid contoh: لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ Sungguh akan Kami tarik ubun-ubunnya. Nun Taukid Tsaqilah memakai Tansydid contoh: لَنُخْرِجَنَّكَ يَا شُعَيْبُ Sunggah kami akan mengeluarkanmu wahai Syu’aib. Bait 10. Tanda Kalimat Isim: Jar, Tanwin, Nida’, Al, Musnad بِالجَرِّ وَالتّنْوِيْنِ وَالنِّدَا وَاَلْ ¤ وَمُسْنَدٍ لِلإسْمِ تَمْيِيْزٌ حَصَلْ Dengan sebab Jar, Tanwin, Nida’, Al, dan Musnad, tanda pembeda untuk Kalimat Isim menjadi berhasil. Bab Kalam Nadzom Alfiyah Pada Bait ini, Mushannif menyebutkan tentang Tanda-tanda Kalimat Isim (Kata Benda). Sebagai ciri-cirinya untuk membedakan dengan Kalimat yang lain (Kalimat Fi’il/Kata Kerja dan Kalimat Huruf/Kata Tugas). Diantaranya adalah: Jar, Tanwin, Nida’, Al (Alif dan Lam) dan Musnad. Jarr جر Tanda Kalimat Isim yang pertama adalah Jar, mencakup: Jar sebab Harf, Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’. Contoh: مَرَرْتُ بغُلاَمِ زَيْدٍ الفَاضِلِ Aku berjumpa dengan Anak Lelakinya Zaid yang baik itu. Lafadz غلام dikatakan Jar sebab Harf (dijarkan oleh Kalimah Huruf), Lafadz زيد dikatakan Jar sebab Idhafah (menjadi Mudhaf Ilaih), dan Lafadz الفاضل dikatakan Jar sebab Tabi’ (menjadi Na’at/Sifat). Hal ini menunjukkan bahwa perkataan Mushannif lebih mencakup dari Qaul lain yang mengatakan bahwa tanda Kalimat Isim sebab Huruf Jarr, karena ini tidak mengarah kepada pengertian Jar sebab Idhafah dan Jar sebab Tabi’. Tanwin تنوين Tanda Kalimat Isim yang kedua adalah Tanwin. Tanwin adalah masdar dari Lafadz Nawwana yang artinya memberi Nun secara bunyinya bukan tulisannya. Sebagai tanda baca yang biasanya ditulis dobel ( اً-اٍ-اٌ ). Di dalam Ilmu Nahwu, Tanwin terbagi empat macam: Tanwin Tamkin: yaitu Tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu’rab selain Jamak Mu’annats Salim dan Isim yang seperti lafadz جوار dan غواش (ada pembagian khusus). Contoh: زيد dan رجل di dalam contoh: جَاءَ زَيْدٌ هُوَ رَجُلٌ Zaid telah datang dia seorang laki-laki Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma’rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh: مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain. Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu’annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki). Contoh: أفْلَحَ مُسْلِمُوْنَ وَمُسْلِمَاتٌ Muslimin dan Muslimat telah beruntung. Tanwin ‘Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam: ◊ Tanwin Pengganti Jumlah: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya. Contoh Firman Allah: وَأنْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَنْظًرُوْنَ Kalian ketika itu sedang melihat. Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya. ◊ Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz كل sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh: كَلٌّ قَائِمٌ Semua dapat berdiri. Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya. ◊ Tanwin Pengganti Huruf: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya. Contoh: هَؤُلاَءِ جَوَارٍ. وَمَرَرْتُ بِجَوَارٍ Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda. Pada kedua lafadz جوار asal bentuknya جواري kemudian Huruf Ya’ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya. Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dmaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh. Adapun Tanwin Tarannum/Taronnum dan Tanwin Ghali, yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Qofiyah atau kesamaan bunyi huruf akhir dalam bait-bait syair Bahasa Arab. Tidak dikhususkan untuk Kalimat Isim saja, tapi bisa digunakan untuk Kalimat Fi’il dan juga untuk Kalimat Harf. Nida’ نداء Tanda Kalimat Isim yang ketiga adalah Nida’. Yaitu memanggil dengan menggunakan salah satu kata panggil atau Huruf Nida’ berupa يا dan saudara-saudaranya. Huruf Nida dikhususkan kepada Kalimat Isim karena Kalimat yang jatuh sesudah Huruf Nida’ (Munada) statusnya sebagai Maf’ul Bih. Sedangkan Maf’ul Bih hanya terjadi kepada Kalimat Isim saja. Contoh: يَا رَسُوْلَ اللهِ Wahai Utusan Allah. AL أل Tanda Kalimat Isim yang keempat berupa AL أل atau Alif dan Lam. Yaitu AL yang fungsinya untuk mema’rifatkan dan AL Zaidah. Contoh: رَجَعَ الرَجُلُ مِنَ المَكَّةَ Orang laki-laki itu telah pulang dari kota Mekkah. AL pada Lafadz الرَجُلُ dinamakan AL Ma’rifat, sedang AL pada Lafadz المَكَّةَ dinamakan AL Zaidah. Sedangkan AL yang selain disebut di atas, tidak khusus masuk kepada Kalimat Isim. seperti AL Isim Maushul yang bisa masuk kepada Kalimat Fi’il Mudhori’, dan AL Huruf Istifham yang bisa masuk kepada Fi’il Madhi. Musnad مسند Tanda Kalimat Isim yang kelima adalah Musnad. Artinya yang disandar atau menurut Istilah yang dihukumi dengan suatu hukum. Contoh: قَاَمَ زَيْدٌ وَ زَيْدٌ قَائِمٌ Zaid telah berdiri dan Zaid adalah orang yang berdiri. Kedua Lafadz زيد pada contoh di atas merupakan Musnad atau yang dihukumi dengan suatu hukum, yaitu hukum berdiri. Hukum berdiri pada lafadz Zaid yang pertama adalah Kata Kerja dam Hukum berdiri untuk Lafadz Zaid yang kedua adalah Khabar.